Senin, 27 Juli 2015

Cerita dibalik Mudik dan Erupsi Gunung Raung #1


“Harapan untuk bisa berkumpul bersama keluarga di kampung menyambut hari kemenangan, justru jadinya hari raya di Kampung orang…”

Hari itu saya bergegas lebih awal dari pada biasanya berharap semuanya sesuai dengan rencana. Jadwal keberangkatan pesawat saya mestinya pukul 17.05 WIB tanggal 16 Juli 2015 melalui Bandara Internasional Juanda Surabaya, tapi saya memilih untuk berangkat pagi meniggalkan Kampung Inggris di Desa Tulungrejo Pare – Kediri.

Pembatalan tiket kereta Api, Jalan-jalan kota Surabaya sambil cari oleh-oleh adalah rencana awal sebelum ke Bandara di Sidoarjo. Tiba di Bandara pukul 13.00 WIB saya rasa waktu yang masih sangat lowong dan belum bisa melakukan check in. Saya berputar-putar mencari ATM Center dan Mushallah di lokasi bandara dan akhirnya ketemu juga.. Setelah meninggalkan Mushallah saya menuju kursi pemberangkatan penumpang. Tiba-tiba terdengar pemberitahuan bahwa Bandara Internasional Juanda ditutup untuk sementara karena debu vulkanis yang disemburkan Gunung Raung di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, menghalangi jalur penerbangan dan bandara akan kembali dibuka pada pukul 20.30 WIB yang harus membatalkan kurang lebih 140 penerbangan. Tidak ada pilihan lain kecuali sabar menunggu kabar baik dari pihak bandara. 


Penantian yang menurutku sangat melelahkan tapi juga cukup menguji kesabaran ketika pengumuman kedua diumumkan oleh pihak Bandara bahwa pada malam itu tidak ada penerbangan karena bandara belum memungkinkan untuk dibuka. Hanya dua pilihan; Rechedule (atur ulang jadwal) atau pembatalan tiket dan uang dikembalikan (refund), saya tetap bertahan menunggu pesawat sampai bisa berangkat dan saya memilih untuk reschedule ke waktu yang tercepat tapi jadinya dapat pukul 17.05 WIB lagi. 

Kemungkinan bandara akan terbuka buka pagi (17/7/15) pukul 07.00 WIB. “Yah apa boleh buat semua akan ada hikmahnya” hiburku dalam hati. Tapi bagaimana dengan kakakku yang sudah menunggu dan siap untuk menjemput kedatangan saya di Bandara? Saya tahu betapa gusarnya dia ketika melihat berita di televisi bahwa Bandara Juanda tutup ditambah kabar dari saya bahwa tidak ada kemungkinan untuk bisa kembali lebaran di kampung. Dia punya istri dan anak bayi di kampung yang menunggu kepulangannya, terlebih karena dia yang dipercaya untuk belanja bahan makanan untuk lebaran. Sungguh dilemanya dia malam itu lewat suaranya yang berat dan terbata-bata saat saya berkomunikasi suara via handphone. Namun akhirnya dia tetap bersedia menunggu saya. 

Saya berusaha menghubungi beberapa kenalan yang berdomisili di Surabaya dan sekitarnya. Sebagian besar diantara mereka tidak memiliki kendaraan pribadi dan jarak rumahnya dari bandara cukup jauh. 
Tidak ada pilihan lain kecuali ikut bermalam dibandara bersama penumpang lain yang juga harus menerima nasib untuk tidak lebaran di kampung halaman. Menginap di hotel bandara bukan kelas saya yang hanya pekerja serabutan di Kota Makassar, makanan di bandara pun saya katakan bukan harga makanan sekelas saya yang mungkin sekali makan di bandara sudah sebanding dengan makan enam kali di Kota Makassar. Saya sudah banyak belajar tentang kesabaran dan perjuangan hidup yang mungkin ini belum ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sudah saya lewati membuat saya lebih tenang sambil sesekali memandangi beberapa penumpang yang harus mengalirkan air mata kesedihannya sambil duduk memegang handphone yang didekatkan di telinga kanannya.  
Duduk melantai sambil sandaran di tembok dekat sumber listrik dengan headphone yang terpasang menutupi kedua daun telinga dan mendengarkan musik adalah posisi paling nyaman saya saat itu…
Pukul 23.00 WIB Tiba-tiba notif handphone berbunyi bertanda BBM masuk dari Hariri teman peserta Temu Bidikmisi Nasional di Unhas yang juga pernah datang ke kampung Inggris dan saya fasilitasi kamar penginapan di asrama saya.

“Bang, nginap dimana? Maaf baru baca pesannya”
“Tidak ada pilihan lain kecuali nginap di bandara dek” 
“Bagaimana kalau bermalam di rumahku saja di Gresik”
“Saya belum tahu jalan ke sana dek lagi pula jarak Bandara ke sana saya lihat di Google Map lumayan jauh, dan bisa menghabiskan waktu dua jam untuk tiba disana” 
“Naik damri bandara saja bang yang langsung menuju gresik, nanti saya jemput di Terminal Bunder Gresik”
“Baiklah saya coba cari dulu busnya..”

Bolak balik mencari informasi dan bertanya tentang transportasi menuju terminal Bunder Gresik dan katanya dari bandara tidak ada kendaraan yang langsung menuju Gresik mesti ke terminal Purabaya-Bungurasih dulu kemudian ambil bus jurusan Semarang atau Jurusan Perak kemudian di Perak harus menunggu angkutan umum yang menuju ke terminal Bunder..
Malam semakin larut, mata semakin sayu dan letih semakin menjadi-jadi, hanya semangat yang melekat dalam diri saya malam itu. Mengangkat koper berat berisi buku dan barang lainnya naik turun bus adalah hal yang paling melelahkan saat itu…
Jam tangan hitam dilengan kiri saya sudah menunjukkan Pukul 00.05 WIB saya tiba di Perak dan harus jalan kaki sekitar 200 meter menuju pertigaan tempat menunggu angkutan umum arah Gresik tapi setelah bertanya dengan orang yang saya temui tidak jauh dari tempat itu katanya sudah jarang ada angkutan umum untuk malam selarut ini bahkan tidak ada lagi karena besok sudah lebaran.

Saya mencoba untuk menghubungi Hariri dan dia bersedia untuk menjemput ditempat saya menuggu, hampir satu jam menunggu di tempat yang sepi itu akhirnya Hariri tiba bersama kakaknya dengan menggunakan mobil Terrios. Akhirnya bisa melepas lelah juga .. cepatnya mobil dan lurusnya jalur Pantura (Pantai Utara) menuju Gresik membuat saya tertidur dan terbangun setelah mobil tiba tepat di depan rumah Hariri. 

Jumat, 24 Juli 2015

SAYA HANYA INGIN PULANG


Mengakhiri petualangan di Pulau Jawa saya berencana untuk kunjungan silaturrahmi ke rumah keluarga di Kota Jakarta, yah kota yang pernah saya kunjungi beberapa tahun yang lalu.  

Entah kenapa meskipun dengan alasan saya yang tidak begitu jelas tiba-tiba ada dorongan yang begitu kuat dari benak saya untuk lebih memilih pulang ke kampung halaman dari pada tinggal menghabiskan waktu di tanah Jawa naik turun kereta api dari stusiun A ke stasiun B, dari bus A ke bus B, dari angkot A menuju angkot B membawa perlengkapan pribadi yang lumayan banyak dan juga menghabiskan isi rekening yang sudah semakin menipis. Mungkin juga karena ada rindu yang begitu dalam untuk kumpul bersama orang tua dan saudara atau rindu kepada orang cantik kedua yang begitu membara. Intinya saya mau pulang…


Tiket kereta api dengan tujuan perjalanan dari Stasiun Pasar Turi (Surabaya) ke Stausiun Pasar Senen (Jakarta) pulang pergi telah saya bayar jauh hari sebelumnya meskipun juga saya telah booking tiket penerbangan Surabaya menuju Makassar.




Malam sebelum pulang rencanya numpang menginap ditempat kost-an Hasbi sahabat saya si pemilik rambut kribo dengan alasan lebih mudah dan lebih dekat menunggu bus menuju terminal Purabaya di Bungurasih Surabaya tapi malah di bawa ke tempat kursusnya di English Studio yang jaraknya cukup dekat dari tempat kost-nya. Hanya butuh beberapa detik berdiri disebuah pertigaan, bus patas tujuan Surabaya tiba-tiba muncul dan berhenti tepat di depan saya. Ketika naik diatas bus yang ada dalam benak saya hanya urutan rute perjalanan setelah tiba di terminal Bungurasih;  Setiba di terminal saya harus cari bus menuju Stasiun Pasar Turi, setelah itu melakukan pembatalan tiket kereta api, naik bus keliling kota Surabaya sambil hunting oleh-oleh buat pulang dan terakhir menuju Bandara Juanda di Sidoarjo.

Tiba di terminal dengan wajah polos dan dihujani para pemilik jasa transportasi mulai dari Damri, taksi, mobil travel, juga ojek. Lama menunggu bus menuju Stasiun Pasar Turi akhirnya saya memutuskan untuk menerima salah satu tawaran tukang ojek dengan catatan sepakat dengan rencana rute perjalanan yang saya mau. Sepakat rute, sepakat dengan besaran bayaran..

Perjalanan dengan jasa ojek dimulai dari terminal dengan koper ukuran kecil didepan, ransel di punggung dan kantongan pakaian jinjing di tengah.. jalan pak !!!

Jarak menuju stasiun dari terminal cukup jauh tapi untung tidak macet. Tiba di stasiun Pasar Turi yang yang sudah dibanjiri oleh para mudiker-mudiker lebaran dan tentunya banyak juga diantara mereka rela berdesak-desakan hanya untuk membatalkan tiket perjalanan seperti saya. Cetak tiket, Mengisi form pembatalan tiket dan antri menunggu giliran nomor antrian dipanggil memakan waktu hampir dua jam dan pastinya masih bersama tukang ojek. Pembatalan tiket sudah kelar meskipun uangnya akan di refund (dikembalikan) via rekening memakan waktu paling cepat sebulan setelah pembatalan ditambah dengan potongan 25% dari harga tiket sebagai biaya administrasi katanya.


Rute selanjutnya adalah keliling kota Surabaya plus hunting buah tangan. Tapi karena merasa kasihan dengan tukang ojek yang pastinya akan menunggu lama lagi akhirnya saya memutuskan hanya ingin mampir sejenak untuk mengabadikan moment di Patung Suro (hiu) dan Boyo (buaya) tepat di depan Wisata Kebun Binatang Surabaya. Lima belas menit saya rasa sudah cukup lama untuk main ditempat itu..



Rute terakhir menuju Bandara Domestik Juanda Surabaya, namanya saja Surabaya tapi bertempat di Sidoarjo tapi jarak tempuhnya dari Kota Surabaya menuju Sidoarjo tidak sampai menghabiskan air mata karena hembusan angin yang begitu kuat tapi membuat bibir kering karena panas dan hembusan angin.

Minggu, 19 Juli 2015

Kenapa ke Kampung Inggris?

Ketika kita mendengar kata KEDIRI mungkin hal yang paling pertama teringat adalah kampung Inggrisnya yang begitu top dikalangan para pelajar pencinta bahasa asing.

Saya ingat sekali di lima tahun silam. Saya sebagai mahasiswa baru waktu itu dan sebagai penghuni baru disebuah pondokan sesama mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara keras yang terdengar begitu mendengung ditelinga dari luar kamar sambil berbicara bahasa Inggris dengan begitu lancarnya. Setelah itu diikuti dengan bahasa Indonesia yang inti percakapannya tentang dirinya yang baru pulang dari Kediri belajar bahasa Inggris. Sempat saya berpikir apasih kelebihan belajar di sana dibanding di Makassar sendiri. Padahal di Makassar juga banyak tempat kursus yang tidak kalah bagusnya juga tidak kalah mahalnya. Lambat laun saya menemukan sedikit demi sedikit alasan kenapa banyak orang-orang dari segala penjuru tanah air yang berbondong-bondong ke Kampung Inggris – Pare. ada mengatakan karena metode belajarnya mudah dipahami dan cepat dimengerti, biaya kursusnya jauh lenih murah dibanding di Makassar sendiri, lingkungannya mendukung karena kampung Pare desa Tulungrejo bangunannya hampir dipenuhi oleh tempat kursus dan penghujinya kebanyakan pendatang yang ingin perdalam bahasa inggrisnya, dan masih banyak alasan lain kenapa mesti di Pare. Tapi khusus saya sendiri, hanya ingin mewujudkan impian saya yang sudah lama ingin belajar di Kediri.


Saya tidak pernah berpikir sebelumnya dari mana saya akan mendapatkan uang yang lumayan besar untuk ukuran saya agar bisa ke Kediri. Pikiran sederhanya saya hanya mengatakan “Nanti akan ada jalan untuk menuju kesana” saya tulis begitu saja diantara deretan impian-impian saya. Dipertengahan study saya, beberapa teman kuliah menghabiskan masa libur panjangnya di Kediri. Saya hanya bilang ke mereka, “nanti saya akan kesana juga” dan tepat dipenghujung kuliah saya, hampir semua teman serumah saya berbondong-bondong ke Kediri dengan berbagai motif. Ada yang ke Kediri hanya untuk belajar saja bahasa Inggris, ada yang mau belajar karena ingin menempati posisi tertentu disebuah perusahaan, tapi kebanyakan dari mereka dengan alasan untuk mencapai target skor tertentu untuk mendapatkan beasiswa luar negeri. Mungkin saya berada digolongan terakhir itu selain ingin mewujudkan impian untuk belajar di Kediri, saya juga punya impian sebagai seorang peraih beasiswa luar negeri.

Sedikit demi sedikit saya kemudian berbincang dengan mereka yang lebih duluan datang dari pada saya dan bertanya tantang apa alasan mereka kenapa belajar di Pare. Ada yang menjawab karena saya mau lanjut S1 di luar negeri, lanjut S2 di luar negeri, mau kerja diluar negeri, pengisi waktu libur dan bahkan ada yang jawab karena kami diwajibkan oleh guru bahasa Inggris di Sekolah. 

Sabtu, 09 Mei 2015

HIDUP ITU PROSES DIK

“Satu pesan saya dik, jangan pernah mengeluh apapun itu. Saya tidak senang mendengar orang yang mengeluh” (Ramly Ambo Logo)

Mungkin sejak itu tertanam dalam-dalam di mindset-ku untuk banyak belajar, berusaha lebih, pantang menyerah dan tidak mengeluh..  berikut beberapa dari banyak kisah yang pernah saya lalui.
Banyak orang yang bercerita tentang bagaimana perjuangan hidup orang lain, tapi lebih banyak diantara mereka yang bercerita tentang perjuangan hidup pribadinya (termasuk saya).
~  *** ~
Makan Nasi Campur Kripik
Tidak sedikit yang bertanya kepada ibuku jika bertemu, “Ibu kasi makan apa Yudi, kenapa bisa seperti itu ?” kata orang-orang kepada ibuku. Ibuku hanya menjawab dengan jawaban candaan sekenanya. “Yah makan nasi, ikan (kalau ada)” Katanya sambil tersenyum..
Saya hanya ingin bercerita dan mengajak kalian untuk banyak-banyak bersyukur, bukan banyak-banyak mengeluh. Hidup itu disyukuri, bukan untuk dikeluhkan..
Terkadang saya heran kepada adik-adik yang protes kepada orang tuanya jika disediakan makanan seadanya. Saya ingat persis ketika saya SMP sampai SMA dulu. Kebetulan ibu saya punya usaha kecil-kecilan, usaha pembuatan kripik (Pisang, singkong, talas) yang didistribusikan ke sekolah-sekolah dan saya yang mengantar ke tiap-tiap warung itu hampir setiap malam. Tidak jarang dan bahkan hampir setiap saya makan hanya dengan makan nasi dengan lauk kripik keladi atau singkong yang dibuat ibuku. Bagi saya yang penting ada pengganjal perut untuk beraktivitas.
Ketika diawal-awal kuliah pun uang makan saya hanya Rp.2000 dalam 2 hari. Rp. 2000,- bisa membeli 4 potong tempe/tahu yang saya habiskan sepotong tempe sekali makan. Kadang dicampur dengan masakan sayur daun kelor jika daun kelor depan kost lagi berdaun lebat. Atau bahkan jika beasiswa tak kunjung cair tidak jarang saya hanya makan nasi campur dengan garam. Tapi lagi-lagi semua itu tidak pernah saya keluhkan. 

Jalan Kaki di bawah Terik
Sejak kelas 2 SMA diberi amanah untuk pakai motor Honda tua milik nenek, tante ibu saya. Motor itu diberikan ke saya agar sewaktu-waktu jika beliau butuh diantar ketempat tertentu ada saya yang selalu siap mengantar. Namun pas ketika masa-masa saya persiapan ujian akhir di SMA nenek saya meniggal. Lulus SMA motor tua itu jadi barang rebutan dikalangan keluarga hingga akhirnya saya  dan ibu saya memilih untuk menyerah. Dengan harapan suatu saat nanti saya bisa beli motor baru yang jauh lebih bagus yang bisa membawa saya kemana pun.

Mahasiswa baru saya jalan kaki dari kost menuju kampus menembus lorong-lorong tikus belakang kampus, tidak jarang juga saya berjalan di bawah terik dari kampus sektor Parangtambung menuju kampus Gunungsari yang mungkin jaraknya sekitar 5 Km hanya untuk memenuhi panggilan para birokrasi disana tidak lain hanya untuk mengurusi ratusan mahasiswa Bidikmisi. Pernah juga suatu ketika bulan puasa dengan penuh harapan agar hari itu saya bisa mencairkan biaya hidup Bidikmisi pertama saya. Saya jalan kaki ba’da jum’at menuju Bank BNI Cabang Pettarani yang jaraknya sekitar 10 Km dari rumah kost.  Alhasil sesampai disana tepat pukul 15.30 yang berarti pelayanan sudah ditutup. Capek, iya.. letih, sangat.. haus, apalagi.. tapi itulah perjuangan. Saya kembali dengan tangan kosong dan mecari masjid terdekat untuk istirahat sembari menuggu buka puasa.

Semester berikutnya saya pernah dihadiahi sepeda Polyg*n dari pihak kemahasiswaan untuk bisa saya pakai pulang balik kampus atau pun keluar kerja tugas. Tapi hanya bertahan mungkin 1 semester karena dicuri.. sejak itu saya bertekad di semester 5 tepat di awal tahun 2013 saya harus punya motor sendiri apapun itu. Alhamdulillah kesabaran dan kesungguhan akan selalu berbuah manis, dipertengahan tahun 2012 saya terpilih menjadi mahasiswa berprestasi I se-Fakultas Teknik dan terpilih 3 besar mahasiswa berpretasi se-Univesitas Negeri Makassar hingga diakhir tahun 2012 saya menjadi salah seorang mahasiswa Bidikmisi yang terpilih mewakili UNM sebagai mahasiswa Bidikmisi berprestasi Nasional di Jakarta. “Hasil tidak pernah menghianati proses”. Tepat di tanggal 3 Januari 2013 saya bisa beli motor baru sendiri tanpa bantuan dari orang tua sedikit pun.
“saya tidak bangga jika saya punya kendaraan mewah, gadget merk terbaru tapi dari orang tua. Saya lebih bangga jika punya barang jelek tapi usaha sendiri”.

Tulis diatas kertas
Ponsel pertama saya beli dari kelebihan uang beasiswa saya waktu SMA. Itu pun hanya ponsel bekas, monophonic, layar kuning, baterainya dieratkan dengan menyelipkan lipatan kecil kertas diujungnya dan casingnya dibalut isolasi. Kurang lebih seperti pengganjal ban mobil atau bahkan pelempar mangga tapi sayangnya tidak bertahan hingga saya masuk kuliah.

Saya kuliah di salah satu program studi terfavorite lagi elite di UNM. Favorite karena prodi baru yang kebanjiran peminat dari segala penjuru Indonesia Timur hingga mencapai empat ribuan peminat ditahun itu. Elite karena kebanyakan dari mereka adalah anak dari kaum teknokrat, konglomerat, biroktrat dan kaum politisi  (tidak pakai rat) yang kebanyakan mata kuliahnya mengharuskan menggunakan laptop. Sedangkan saya hanya anak yatim dan sederhana. Ponsel saja tidak punya apalagi laptop..
Pernah suatu ketika ujian tengah semester mata kuliah Bahasa Pemrograman segera dimulai dan dosen memerintahkan untuk menaikkan masing-masing laptop di atas mejanya. Saya hanya bisa menoleh kiri dan kanan dan menyadari dikelas memang hanya saya yang tidak mempunyai laptop. Hanya bisa menelan ludah dan mengurut dada. Karena saya duduknya paling depan tiba-tiba dosen berkata “Ok silahkan kerjakan bahasa pemrograman yang ada pada slide di atas dengan menggunakan laptop masing-masing dan nanti file-nya dikumpul dalam satu flashdisk. Khusus Yudi kerjakan di atas kertas saja”.

Saya hanya ingin menyampaikan kepada siapa saja yang membaca ini terutama kepada adik-adik mahasiswa Bidikmisi, perbanyaklah berdoa, bersyukur dan berusaha karena tidak ada usaha yang tidak membuahkan hasil. Juga perbanyak berterima kasih kepada siapa pun yang selalu memberikan kebaikan dan bantuan kepadamu terutama kepada ibumu yang selalu mendoakan,  mengkhawatirkanmu dan memberikan kasih sayang tulusnya kepadamu.

“Hidup itu proses Dik, hadiah dan prestasi hanya efek dari proses yang kamu jalani. Tetap jadi manusia yang Optimistis…”

Jumat, 08 Mei 2015

Malino Kota Romantis

Seketika perasaan begitu segar, pandangan menjadi hijau, pikiran jadi terbuka yang di dalamnya mengalir syair-syair melangkolis ketika melintas di kawasan Malino. Kota Bunga orang menyebutnya, kota wisata juga mereka menyebutnya, tapi menurut saya Malino itu kota romantis. Romantis bukan karena sering dipadati pasangan muda-mudi yang menghabiskan masa liburannya disana. Romantis karena sepanjang jalan perkotaan ini dihiasi oleh rerimbunan pohon besar yang hijau juga juga bunga yang bermekaran diatasnya.



Semakin hari tempat ini semakin romantis. Dulu ketika berkunjung ke tampat ini kita hanya bisa menikmati pemandangan hutan pinus yang memanjakan mata, air terjun Takapala yang menenangkan hati, kolam lembah biru yang menyegarkan raga dan kebun teh yang membuka pikiran dengan pemandangan dedaunan hijau yang luas (hampir) sejauh mata memandang yang kini berubah nama menjadi Malino Highland.

Terakhir Beberapa hari yang lalu tepat dihari ulang tahunku, saya melintas di kota ini (lagi) dari kampung halaman di Sinjai Barat menuju Kota Makassar. Saya baru tersadar kota ini mungkin tidak lama lagi berganti julukan menjadi kota Strawberry bukan lagi kota Bunga. Tapi tetap kota Romantis menurut saya.. 
Semakin hari tempat ini semakin romantis. Dulu ketika berkunjung ke tampat ini kita hanya bisa menikmati pemandangan hutan pinus yang memanjakan mata, air terjun Takapala yang menenangkan hati, kolam lembah biru yang menyegarkan raga dan kebun teh yang membuka pikiran dengan pemandangan dedaunan hijau yang luas (hampir) sejauh mata memandang yang kini berubah nama menjadi Malino High Land.

Kembali ke strawberry..
Mungkin tidak sedikit yang menjadi penyuka buah mungil merah dan menggoda ini. Orang banyak menyebutnya simbol cinta karena mungkin bentuknya tidak jauh beda dengan bentuk hati atau mungkin seperti di film romantika yang menyebut strawberry seperti cinta yang terkadang rasanya asam yang akhirnya berasa manis. Bukan hanya simbol cinta, tapi menurut saya strawberry juga merupakan simbol yang mewakili kerendahan hati karena strawberry sering ditemukan di bawah daun.


“Salah satu hadiah istimewa untuk orang yang kamu cintai adalah menghadiahkannya strawberry”

Rabu, 06 Mei 2015

Setahun yang Lalu

Tepat setahun yang lalu saya masih mengingat dengan jelas ketika saya kembali ke rumah memulihkan lelah setelah seharian beraktivitas menguras pikiran juga semangat..

Pikiran habis terkuras bersama tumpukan tugas kuliah, praktikum, asistensi, tugas organisasi dan tumpukan berkas isian pendataan siswa berserta guru. Seperti biasanya, migrain akan jadi sahabat akrab jika dalam keadaan kondisi yang teramat lelah itu.

Lelah teramat lelah saat itu sehingga tidak ada pilihan lain selain merebahkan tubuh di atas kasur merah kecil tanpa mengganti pakaian yang masih melekat sedari pagi ditempat kerja, kemeja batik cetak merah ketika itu.

Hari itu tepat dihari ulang tahunku yang ke 22 yang sebenarnya dan 23 versi ijazah-nya.. ucapan dan doa yang paling  saya tunggu adalah darimu..namun tak kunjung datang juga dan tidak secepat layaknya saya yang menunggu detik-detik malam pergantian hari dihari ulang tahunmu. Yang ada hanyalah pesan singkat pamitanmu ke luar daerah bersama sahabatmu..  

Sudahlah, memang sebelumnya saya tidak pernah ada perlakuan atau pun moment istimewa sepanjang hidupku layaknya orang-orang kebanyakan diluar sana.

Tidurku tidak begitu nyeyak waktu itu, tiba-tiba dari luar pagar terdengar teriakan yang tidak begitu asing. Ternyata itu kamu bersama sahabatmu sambil memegang sebuah kotak putih berisikan kue dan membawanya kedalam rumah.

“Selamat ulang tahun dan tolong buatlah sebuah harapan menyentuh kue ini” Katamu..

Terima kasih menjadi orang yang pertama mengajak untuk membuat harapan. Ini ajakan kedua setelah ajak pertama dimalam pergantian tahun itu..

Followers

Terima Kasih atas kunjungan anda, Jangan lupa Follow, dan komentarnya !!!