Tampilkan postingan dengan label Coretan Biasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan Biasa. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juli 2015

Cerita dibalik Mudik dan Erupsi Gunung Raung #2

Saya terbangun sekitar pukul delapan pagi disaat Hariri dan keluarganya pulang dari Shalat Idh, Astagfirullah saya kesiangan..
Sebelum diantar kembali ke Bandara Juanda saya diajak untuk ikut berkeliling silaturrahmi ke rumah warga setempat sambil melihat bagaimana adat orang Jawa ketika hari lebaran, cukup jauh berbeda menurutku dengan dengan adat yang ada di Kampung halamanku. Adat mereka
Setelah shalat Jum’at disalah satu masjid di Gresik yang isi khutbahnya sepenuhnya menggunakan jawa, saya kembali berkemas dan bersiap untuk kembali ke Bandara di Sidoarjo karena perjalanan dari Gresik menuju Bandara Juanda di Sidoarjo cukup jauh dan saya harus check in selambat-lambatnya jam empat sore. Saya sibuk berkemas, orang tua Hariri juga sibuk mempersiapkan makanan dan minuman saya untuk di Bandara nanti juga oleh-oleh khas Gresik buat keluarga saya di Kampung.
Semuanya sudah beres dan siap untuk berangkat ke Bandara ternyata keluarga Hariri juga ikut mengantar, mulai dari Bapak, Ibu, paman, sepupu dan Hariri sendiri ikut mengantarkan saya ke Bandara. Penghargaan mereka terhadap tamu jauh melebihi dugaan saya, saya salut …
Waktu menunjukkan jam 3 sore akhirnya kami tiba di Bandara Juanda, duduk sejenak dan langsung menuju ke Costumer Service mananyakan perkambangan penerbangan. 
“Permisi mba, saya mau tanya bagaimana dengan perkembangan untuk jadwal penerbangan hari ini?”
“Maas mas, karena banyaknya pembatalan penerbangan maka kami harus menata ulang jadwal penerbangan, mas silahkan reschedule lagi”
Saya reschedule dan ternyata dapat jadwal pukul 20.30 WIB.. waw mundur tiga setengah jam lamanya.
Saya kembali ke rombongan Hariri beserta keluarganya dan memberitahukan tentang perubahan jadwal, Karena pertimbangan masih sangat lama dan mereka juga harus open house di Gresik akhirnya mereka pamit duluan dan langusung kembali ke Gresik. Terima kasih yang tak berujung buat mereka…
Kembali menunggu seperti hari sebelumnya dengan posisi yang tidak jauh berbeda juga. Saya kembali menghubungi kakak yang masih menunggu berita baik dari saya, saya informasikan bahwa jadwal keberangkatan saya mundur lagi. Dia kembali galau dan mulai berpikir untuk pulang lebih awal dari pada menunggu kedatangan saya yang tidak pasti. Tapi saya berusaha terus meminta agar tetap menunggu saya karena tidak ada lagi orang lain yang bisa saya harapkan untuk datang menjemput di Bandara kecuali dia. Dia kembali sepakat untuk tetap menunggu saya..
Setelah shalat maghrib tiba-tiba para penumpang kembali gusar setelah mendengar pemberitahuan dari pihak bandara bahwa Bandara akan kembali ditutup atas perintah langsung dari Menteri Perhubungan via telepon. Berita rencana penutupan Bandara pada pukul 19.00 WIB kembali disiarkan dibeberapa stasiun televisi nasional yang disaksikan oleh keluarga Hariri dan tentunya juga kakak saya yang masih setia menunggu di Makassar.
Secepatnya kembali saya menghadap ke costumer service bandara menanyakan kebenaran isu hangat penutupan bandara yang ramai diperbincangkan oleh para penumpang dan mereka membenarkan hal itu. Kembali harus memilih antara reschedule pemberangkatan atau refund tiket, jika reschedule waktu pemberangkatan yang paling cepat adalah pukul 7.00 WIB tanggal 18 Juli tapi jika refund harus mengurus lagi ke agen online tempat saya beli tiket. Berat rasanya memutuskan harus memilih apa, jika saya pilih reschedule lagi berarti saya bisa berangkat dihari berikutnya itu pun belum ada kepastian apakah ada penerbangan ataukah bandara akan ditutup lagi, jika saya pilih refund berarti saya bisa berganti mode transportasi dari Pesawat terbang ke Kapal Laut atau Kereta Api menuju salah satu kota yang bandaranya aman. Saya memutuskan untuk berpikir tenang dan keluar dari ruangan Costumer service..
Selanjutnya saya mencoba mencari kejelasan dari pihak lain yaitu ke maskapai penerbangan yang saya pakai saat itu yaitu Citilink. Kembali menanyakan kejelasan penutupan bandara, dia juga membenarkan hal tersebut tapi informasi resmi dalam bentuk surat pemeberitahuan dari kementerian perhubungan belum datang masih sebatas via telepon jadi saat itu belum ada kejelasan apakah bandara kembali ditutup atau akan tetap ada penerbangan malam itu.
Panggilan masuk pertama dari keluarga Hariri yang kembali gelisah karena melihat berita penutupan bandara lewat televisi di rumahnya. Panggilan kedua dari Kakak saya Yasmin yang sudah galisah maksimal dan sudah dua hari mendekam dikamar menunggu informasi pemeberangkatan terbaru dari saya. Saya hanya berusaha menenangkan mereka bahwa informasi penutupan bandara belum jelas dan masih ada harapan untuk bisa berangkat malam itu. Khusus kakak saya, kami sepakat kalau malam itu delay lagi maka saya membiarkan dia untuk kembali ke kampung lebih awal.
Harap-harap cemas masih menghantui pikiran saya malam itu dan belum bisa memutuskan apakah harus memilih reschedule atau refund, yang bisa saya lakukan adalah saya masih bersedia menunggu selama beberapa jam terkait informasi baru apakah bandara akan ditutup lagi ataukah akan ada pemberangkatan.
Sempat terjadi adu argument dan aksi pukul meja dari beberapa penumpang saat itu yang sudah habis kesabaran karena sudah dua hari lamanya menunggu pesawat yang tak kunjung berangkat dan harus menunggu lagi jika bandara ditutup sedangkan beberapa rute sudah ada yang berangkat dan menurut informasi dari ATC (Air Traffic Controller) atau Pemandu Lalulintas Udara bahwa lalulintas penerbangan malam itu aman-aman  saja. Sebagian penumpang khususnya dari Makassar masih tetap mengadakan negoasiasi dengan pihak kementerian perhubungan dan saya berinisiatif bersama beberapa penumpang lain untuk audiensi dengan pihak reporter televisi nasional. Setelah sepakat untuk on air satu jam kedepan dengan salah satu pihak media yang bersedia menyiarkan keluhan kami dengan harapan ada desakan bagi pihak bandara dan pihak kementerian untuk segera mengambil keputusan pasti apakah bandara jadi ditutup ataukah akan ada penerbangan.

Kami kembali kerombongan penumpang yang sedang melakukan negosiasi dan tidak lama setelah itu akhirnya ada titik terang dari pihak bandara bahwa pada malam itu pihak bandara akan tetap mengadakan pemberangkatan. Pesawat saya berangkat tepat pada jadwal yang saya minta sebelumnya yaitu pukul 20.30 WIB meskipun sudah banyak kursi yang kosong karena sudah banyak yang melakukan reschedule dan refund.  Alhamdulillah tiba dengan selamat di Bandara Hasanuddin – Makassar tepat pukul 23.00 WITA. Dan bisa pulang kampung dengan tenang bersama kakak esok paginya… 

Cerita dibalik Mudik dan Erupsi Gunung Raung #1


“Harapan untuk bisa berkumpul bersama keluarga di kampung menyambut hari kemenangan, justru jadinya hari raya di Kampung orang…”

Hari itu saya bergegas lebih awal dari pada biasanya berharap semuanya sesuai dengan rencana. Jadwal keberangkatan pesawat saya mestinya pukul 17.05 WIB tanggal 16 Juli 2015 melalui Bandara Internasional Juanda Surabaya, tapi saya memilih untuk berangkat pagi meniggalkan Kampung Inggris di Desa Tulungrejo Pare – Kediri.

Pembatalan tiket kereta Api, Jalan-jalan kota Surabaya sambil cari oleh-oleh adalah rencana awal sebelum ke Bandara di Sidoarjo. Tiba di Bandara pukul 13.00 WIB saya rasa waktu yang masih sangat lowong dan belum bisa melakukan check in. Saya berputar-putar mencari ATM Center dan Mushallah di lokasi bandara dan akhirnya ketemu juga.. Setelah meninggalkan Mushallah saya menuju kursi pemberangkatan penumpang. Tiba-tiba terdengar pemberitahuan bahwa Bandara Internasional Juanda ditutup untuk sementara karena debu vulkanis yang disemburkan Gunung Raung di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, menghalangi jalur penerbangan dan bandara akan kembali dibuka pada pukul 20.30 WIB yang harus membatalkan kurang lebih 140 penerbangan. Tidak ada pilihan lain kecuali sabar menunggu kabar baik dari pihak bandara. 


Penantian yang menurutku sangat melelahkan tapi juga cukup menguji kesabaran ketika pengumuman kedua diumumkan oleh pihak Bandara bahwa pada malam itu tidak ada penerbangan karena bandara belum memungkinkan untuk dibuka. Hanya dua pilihan; Rechedule (atur ulang jadwal) atau pembatalan tiket dan uang dikembalikan (refund), saya tetap bertahan menunggu pesawat sampai bisa berangkat dan saya memilih untuk reschedule ke waktu yang tercepat tapi jadinya dapat pukul 17.05 WIB lagi. 

Kemungkinan bandara akan terbuka buka pagi (17/7/15) pukul 07.00 WIB. “Yah apa boleh buat semua akan ada hikmahnya” hiburku dalam hati. Tapi bagaimana dengan kakakku yang sudah menunggu dan siap untuk menjemput kedatangan saya di Bandara? Saya tahu betapa gusarnya dia ketika melihat berita di televisi bahwa Bandara Juanda tutup ditambah kabar dari saya bahwa tidak ada kemungkinan untuk bisa kembali lebaran di kampung. Dia punya istri dan anak bayi di kampung yang menunggu kepulangannya, terlebih karena dia yang dipercaya untuk belanja bahan makanan untuk lebaran. Sungguh dilemanya dia malam itu lewat suaranya yang berat dan terbata-bata saat saya berkomunikasi suara via handphone. Namun akhirnya dia tetap bersedia menunggu saya. 

Saya berusaha menghubungi beberapa kenalan yang berdomisili di Surabaya dan sekitarnya. Sebagian besar diantara mereka tidak memiliki kendaraan pribadi dan jarak rumahnya dari bandara cukup jauh. 
Tidak ada pilihan lain kecuali ikut bermalam dibandara bersama penumpang lain yang juga harus menerima nasib untuk tidak lebaran di kampung halaman. Menginap di hotel bandara bukan kelas saya yang hanya pekerja serabutan di Kota Makassar, makanan di bandara pun saya katakan bukan harga makanan sekelas saya yang mungkin sekali makan di bandara sudah sebanding dengan makan enam kali di Kota Makassar. Saya sudah banyak belajar tentang kesabaran dan perjuangan hidup yang mungkin ini belum ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sudah saya lewati membuat saya lebih tenang sambil sesekali memandangi beberapa penumpang yang harus mengalirkan air mata kesedihannya sambil duduk memegang handphone yang didekatkan di telinga kanannya.  
Duduk melantai sambil sandaran di tembok dekat sumber listrik dengan headphone yang terpasang menutupi kedua daun telinga dan mendengarkan musik adalah posisi paling nyaman saya saat itu…
Pukul 23.00 WIB Tiba-tiba notif handphone berbunyi bertanda BBM masuk dari Hariri teman peserta Temu Bidikmisi Nasional di Unhas yang juga pernah datang ke kampung Inggris dan saya fasilitasi kamar penginapan di asrama saya.

“Bang, nginap dimana? Maaf baru baca pesannya”
“Tidak ada pilihan lain kecuali nginap di bandara dek” 
“Bagaimana kalau bermalam di rumahku saja di Gresik”
“Saya belum tahu jalan ke sana dek lagi pula jarak Bandara ke sana saya lihat di Google Map lumayan jauh, dan bisa menghabiskan waktu dua jam untuk tiba disana” 
“Naik damri bandara saja bang yang langsung menuju gresik, nanti saya jemput di Terminal Bunder Gresik”
“Baiklah saya coba cari dulu busnya..”

Bolak balik mencari informasi dan bertanya tentang transportasi menuju terminal Bunder Gresik dan katanya dari bandara tidak ada kendaraan yang langsung menuju Gresik mesti ke terminal Purabaya-Bungurasih dulu kemudian ambil bus jurusan Semarang atau Jurusan Perak kemudian di Perak harus menunggu angkutan umum yang menuju ke terminal Bunder..
Malam semakin larut, mata semakin sayu dan letih semakin menjadi-jadi, hanya semangat yang melekat dalam diri saya malam itu. Mengangkat koper berat berisi buku dan barang lainnya naik turun bus adalah hal yang paling melelahkan saat itu…
Jam tangan hitam dilengan kiri saya sudah menunjukkan Pukul 00.05 WIB saya tiba di Perak dan harus jalan kaki sekitar 200 meter menuju pertigaan tempat menunggu angkutan umum arah Gresik tapi setelah bertanya dengan orang yang saya temui tidak jauh dari tempat itu katanya sudah jarang ada angkutan umum untuk malam selarut ini bahkan tidak ada lagi karena besok sudah lebaran.

Saya mencoba untuk menghubungi Hariri dan dia bersedia untuk menjemput ditempat saya menuggu, hampir satu jam menunggu di tempat yang sepi itu akhirnya Hariri tiba bersama kakaknya dengan menggunakan mobil Terrios. Akhirnya bisa melepas lelah juga .. cepatnya mobil dan lurusnya jalur Pantura (Pantai Utara) menuju Gresik membuat saya tertidur dan terbangun setelah mobil tiba tepat di depan rumah Hariri. 

Jumat, 24 Juli 2015

SAYA HANYA INGIN PULANG


Mengakhiri petualangan di Pulau Jawa saya berencana untuk kunjungan silaturrahmi ke rumah keluarga di Kota Jakarta, yah kota yang pernah saya kunjungi beberapa tahun yang lalu.  

Entah kenapa meskipun dengan alasan saya yang tidak begitu jelas tiba-tiba ada dorongan yang begitu kuat dari benak saya untuk lebih memilih pulang ke kampung halaman dari pada tinggal menghabiskan waktu di tanah Jawa naik turun kereta api dari stusiun A ke stasiun B, dari bus A ke bus B, dari angkot A menuju angkot B membawa perlengkapan pribadi yang lumayan banyak dan juga menghabiskan isi rekening yang sudah semakin menipis. Mungkin juga karena ada rindu yang begitu dalam untuk kumpul bersama orang tua dan saudara atau rindu kepada orang cantik kedua yang begitu membara. Intinya saya mau pulang…


Tiket kereta api dengan tujuan perjalanan dari Stasiun Pasar Turi (Surabaya) ke Stausiun Pasar Senen (Jakarta) pulang pergi telah saya bayar jauh hari sebelumnya meskipun juga saya telah booking tiket penerbangan Surabaya menuju Makassar.




Malam sebelum pulang rencanya numpang menginap ditempat kost-an Hasbi sahabat saya si pemilik rambut kribo dengan alasan lebih mudah dan lebih dekat menunggu bus menuju terminal Purabaya di Bungurasih Surabaya tapi malah di bawa ke tempat kursusnya di English Studio yang jaraknya cukup dekat dari tempat kost-nya. Hanya butuh beberapa detik berdiri disebuah pertigaan, bus patas tujuan Surabaya tiba-tiba muncul dan berhenti tepat di depan saya. Ketika naik diatas bus yang ada dalam benak saya hanya urutan rute perjalanan setelah tiba di terminal Bungurasih;  Setiba di terminal saya harus cari bus menuju Stasiun Pasar Turi, setelah itu melakukan pembatalan tiket kereta api, naik bus keliling kota Surabaya sambil hunting oleh-oleh buat pulang dan terakhir menuju Bandara Juanda di Sidoarjo.

Tiba di terminal dengan wajah polos dan dihujani para pemilik jasa transportasi mulai dari Damri, taksi, mobil travel, juga ojek. Lama menunggu bus menuju Stasiun Pasar Turi akhirnya saya memutuskan untuk menerima salah satu tawaran tukang ojek dengan catatan sepakat dengan rencana rute perjalanan yang saya mau. Sepakat rute, sepakat dengan besaran bayaran..

Perjalanan dengan jasa ojek dimulai dari terminal dengan koper ukuran kecil didepan, ransel di punggung dan kantongan pakaian jinjing di tengah.. jalan pak !!!

Jarak menuju stasiun dari terminal cukup jauh tapi untung tidak macet. Tiba di stasiun Pasar Turi yang yang sudah dibanjiri oleh para mudiker-mudiker lebaran dan tentunya banyak juga diantara mereka rela berdesak-desakan hanya untuk membatalkan tiket perjalanan seperti saya. Cetak tiket, Mengisi form pembatalan tiket dan antri menunggu giliran nomor antrian dipanggil memakan waktu hampir dua jam dan pastinya masih bersama tukang ojek. Pembatalan tiket sudah kelar meskipun uangnya akan di refund (dikembalikan) via rekening memakan waktu paling cepat sebulan setelah pembatalan ditambah dengan potongan 25% dari harga tiket sebagai biaya administrasi katanya.


Rute selanjutnya adalah keliling kota Surabaya plus hunting buah tangan. Tapi karena merasa kasihan dengan tukang ojek yang pastinya akan menunggu lama lagi akhirnya saya memutuskan hanya ingin mampir sejenak untuk mengabadikan moment di Patung Suro (hiu) dan Boyo (buaya) tepat di depan Wisata Kebun Binatang Surabaya. Lima belas menit saya rasa sudah cukup lama untuk main ditempat itu..



Rute terakhir menuju Bandara Domestik Juanda Surabaya, namanya saja Surabaya tapi bertempat di Sidoarjo tapi jarak tempuhnya dari Kota Surabaya menuju Sidoarjo tidak sampai menghabiskan air mata karena hembusan angin yang begitu kuat tapi membuat bibir kering karena panas dan hembusan angin.

Minggu, 19 Juli 2015

Kenapa ke Kampung Inggris?

Ketika kita mendengar kata KEDIRI mungkin hal yang paling pertama teringat adalah kampung Inggrisnya yang begitu top dikalangan para pelajar pencinta bahasa asing.

Saya ingat sekali di lima tahun silam. Saya sebagai mahasiswa baru waktu itu dan sebagai penghuni baru disebuah pondokan sesama mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara keras yang terdengar begitu mendengung ditelinga dari luar kamar sambil berbicara bahasa Inggris dengan begitu lancarnya. Setelah itu diikuti dengan bahasa Indonesia yang inti percakapannya tentang dirinya yang baru pulang dari Kediri belajar bahasa Inggris. Sempat saya berpikir apasih kelebihan belajar di sana dibanding di Makassar sendiri. Padahal di Makassar juga banyak tempat kursus yang tidak kalah bagusnya juga tidak kalah mahalnya. Lambat laun saya menemukan sedikit demi sedikit alasan kenapa banyak orang-orang dari segala penjuru tanah air yang berbondong-bondong ke Kampung Inggris – Pare. ada mengatakan karena metode belajarnya mudah dipahami dan cepat dimengerti, biaya kursusnya jauh lenih murah dibanding di Makassar sendiri, lingkungannya mendukung karena kampung Pare desa Tulungrejo bangunannya hampir dipenuhi oleh tempat kursus dan penghujinya kebanyakan pendatang yang ingin perdalam bahasa inggrisnya, dan masih banyak alasan lain kenapa mesti di Pare. Tapi khusus saya sendiri, hanya ingin mewujudkan impian saya yang sudah lama ingin belajar di Kediri.


Saya tidak pernah berpikir sebelumnya dari mana saya akan mendapatkan uang yang lumayan besar untuk ukuran saya agar bisa ke Kediri. Pikiran sederhanya saya hanya mengatakan “Nanti akan ada jalan untuk menuju kesana” saya tulis begitu saja diantara deretan impian-impian saya. Dipertengahan study saya, beberapa teman kuliah menghabiskan masa libur panjangnya di Kediri. Saya hanya bilang ke mereka, “nanti saya akan kesana juga” dan tepat dipenghujung kuliah saya, hampir semua teman serumah saya berbondong-bondong ke Kediri dengan berbagai motif. Ada yang ke Kediri hanya untuk belajar saja bahasa Inggris, ada yang mau belajar karena ingin menempati posisi tertentu disebuah perusahaan, tapi kebanyakan dari mereka dengan alasan untuk mencapai target skor tertentu untuk mendapatkan beasiswa luar negeri. Mungkin saya berada digolongan terakhir itu selain ingin mewujudkan impian untuk belajar di Kediri, saya juga punya impian sebagai seorang peraih beasiswa luar negeri.

Sedikit demi sedikit saya kemudian berbincang dengan mereka yang lebih duluan datang dari pada saya dan bertanya tantang apa alasan mereka kenapa belajar di Pare. Ada yang menjawab karena saya mau lanjut S1 di luar negeri, lanjut S2 di luar negeri, mau kerja diluar negeri, pengisi waktu libur dan bahkan ada yang jawab karena kami diwajibkan oleh guru bahasa Inggris di Sekolah. 

Jumat, 08 Mei 2015

Malino Kota Romantis

Seketika perasaan begitu segar, pandangan menjadi hijau, pikiran jadi terbuka yang di dalamnya mengalir syair-syair melangkolis ketika melintas di kawasan Malino. Kota Bunga orang menyebutnya, kota wisata juga mereka menyebutnya, tapi menurut saya Malino itu kota romantis. Romantis bukan karena sering dipadati pasangan muda-mudi yang menghabiskan masa liburannya disana. Romantis karena sepanjang jalan perkotaan ini dihiasi oleh rerimbunan pohon besar yang hijau juga juga bunga yang bermekaran diatasnya.



Semakin hari tempat ini semakin romantis. Dulu ketika berkunjung ke tampat ini kita hanya bisa menikmati pemandangan hutan pinus yang memanjakan mata, air terjun Takapala yang menenangkan hati, kolam lembah biru yang menyegarkan raga dan kebun teh yang membuka pikiran dengan pemandangan dedaunan hijau yang luas (hampir) sejauh mata memandang yang kini berubah nama menjadi Malino Highland.

Terakhir Beberapa hari yang lalu tepat dihari ulang tahunku, saya melintas di kota ini (lagi) dari kampung halaman di Sinjai Barat menuju Kota Makassar. Saya baru tersadar kota ini mungkin tidak lama lagi berganti julukan menjadi kota Strawberry bukan lagi kota Bunga. Tapi tetap kota Romantis menurut saya.. 
Semakin hari tempat ini semakin romantis. Dulu ketika berkunjung ke tampat ini kita hanya bisa menikmati pemandangan hutan pinus yang memanjakan mata, air terjun Takapala yang menenangkan hati, kolam lembah biru yang menyegarkan raga dan kebun teh yang membuka pikiran dengan pemandangan dedaunan hijau yang luas (hampir) sejauh mata memandang yang kini berubah nama menjadi Malino High Land.

Kembali ke strawberry..
Mungkin tidak sedikit yang menjadi penyuka buah mungil merah dan menggoda ini. Orang banyak menyebutnya simbol cinta karena mungkin bentuknya tidak jauh beda dengan bentuk hati atau mungkin seperti di film romantika yang menyebut strawberry seperti cinta yang terkadang rasanya asam yang akhirnya berasa manis. Bukan hanya simbol cinta, tapi menurut saya strawberry juga merupakan simbol yang mewakili kerendahan hati karena strawberry sering ditemukan di bawah daun.


“Salah satu hadiah istimewa untuk orang yang kamu cintai adalah menghadiahkannya strawberry”

Rabu, 06 Mei 2015

Setahun yang Lalu

Tepat setahun yang lalu saya masih mengingat dengan jelas ketika saya kembali ke rumah memulihkan lelah setelah seharian beraktivitas menguras pikiran juga semangat..

Pikiran habis terkuras bersama tumpukan tugas kuliah, praktikum, asistensi, tugas organisasi dan tumpukan berkas isian pendataan siswa berserta guru. Seperti biasanya, migrain akan jadi sahabat akrab jika dalam keadaan kondisi yang teramat lelah itu.

Lelah teramat lelah saat itu sehingga tidak ada pilihan lain selain merebahkan tubuh di atas kasur merah kecil tanpa mengganti pakaian yang masih melekat sedari pagi ditempat kerja, kemeja batik cetak merah ketika itu.

Hari itu tepat dihari ulang tahunku yang ke 22 yang sebenarnya dan 23 versi ijazah-nya.. ucapan dan doa yang paling  saya tunggu adalah darimu..namun tak kunjung datang juga dan tidak secepat layaknya saya yang menunggu detik-detik malam pergantian hari dihari ulang tahunmu. Yang ada hanyalah pesan singkat pamitanmu ke luar daerah bersama sahabatmu..  

Sudahlah, memang sebelumnya saya tidak pernah ada perlakuan atau pun moment istimewa sepanjang hidupku layaknya orang-orang kebanyakan diluar sana.

Tidurku tidak begitu nyeyak waktu itu, tiba-tiba dari luar pagar terdengar teriakan yang tidak begitu asing. Ternyata itu kamu bersama sahabatmu sambil memegang sebuah kotak putih berisikan kue dan membawanya kedalam rumah.

“Selamat ulang tahun dan tolong buatlah sebuah harapan menyentuh kue ini” Katamu..

Terima kasih menjadi orang yang pertama mengajak untuk membuat harapan. Ini ajakan kedua setelah ajak pertama dimalam pergantian tahun itu..

Rabu, 04 Februari 2015

Ragaku..

Ragaku di sini, tapi jiwaku ada di sana..
Dingin, riak hujan, dan teriakan nyanyian tak merdu mengelilingi ruang-ruang ragaku...
Aku merasa sendiri dalam keramaian yg tak bertepi..
Detak jantung mengiringi detik jarum panjang arloji ditangan kananku..sembari menghitung berapa detik lagi waktu yang akan saya habiskan diruang yang sepi ini hingga saya kembali ke tempat dimana jiwaku berada..

Rabu, 31 Desember 2014

Catatan Pergantian Tahun

Menyederhanankan sebuah langkah dalam seutas kisah, 2014 sisa menghitung jam. Sejenak memandangi deretan tulisan yang mungkin kata orang hanya sebuah daftar keinginan. Tapi bagi saya adalah sebuah deretan titik dari beberapa titik yang akan terlewati oleh bentangan impian kehidupan. Titik itu akan selalu ada, dan suatu saat nanti akan terlewati oleh sebuah bentangan kehidupan. Saya tidak merasa gagal dengan daftar harapan itu, karena semua itu adalah modal saya untuk melangkah menuju babak baru di tahun 2015.

Terima kasih untuk ibuku yang selalu mengirimkan doa dengan penuh rasa cinta dan sejuta harapan, kamu adalah perempuan hebat yang pernah ku kenal.

Buat gadis pemimpi juga pembelajar yang kutemui tepat setahun yang lalu, sudah setahun kita jalan dengan titik dan jalan yang sama dengan membangun harapan-harapan besar bersama. 


Kamis, 18 Desember 2014

Cukup Duduk Bersamamu

Deburan ombak, hembusan angin laut, dan segelas kopi hangat menemani kita malam itu..

Kali pertama kita menikmati malam dengan cara berbeda... malam yang biasanya hanya diperantarai oleh sebuah pesan  singkat atau panggilan suara. Tapi malam itu kita duduk di sebuah teras rumah panggung di tempat yang baru kita datangi tapi sangat indah menurutku juga menurutmu.

Malam itu kita sama-sama berbalut jaket couple biru tua sebagai penahan dinginnya angin malam. Juga malam itu kamu menitip cincin emas di jari kelingking kananku sebagai orang yang kamu percaya..

Mungkin kamu selalu ingat bukan, untuk membuatku bahagia cukup sederhana. Yaitu bisa duduk bersamamu...

Pantai Bara, 18 Nopember 2014

Senin, 26 Mei 2014

Di musim Dingin Kita Bertemu

Sebuah pecakapan singkat waktu itu, “Kak saya mau banyak tahu tentang karya tulis” Katamu kepadaku. Dengan senyum saya menjawab, “saya akan selalu bersedia mengajarkanmu apapun itu selama saya tahu”, tapi saya sangat berharap kamu bisa bergabung disebuah lembaga yang telah membesarkan saya. “Bagaimana cara bergabungnya kak, dan kapan itu?”. “Yah tidak lama lagi perekrutan anggotanya akan terbuka tunggu info selanjutnya, saya akan kabarkan kalau sudah mulai pengambilan formulirnya”.

Saya tidak akan lupa dengan orang pertama yang mengajakku untuk menuliskan sebuah harapan di malam tahun baru, yah seumur hidupku kamu orang yang baru saya kenal tapi orang yang pertama mengajakku untuk menuliskan mimpi-mimpi di tahun yang tidak lama lagi akan segera datang waktu itu. Dari beberapa deretan impian yang saya tuliskan kamu mengaku iri dari beberapa diantaranya. Namun ada satu harapan di bulan Januari yang saya tidak tuliskan dan kamu tahu pasti apa harapan itu, kamu masih ingatkan? Yah, cukup kita berdua yang tahu.

Kamu memutuskan untuk ikut bersama mimpi-mimpiku namun saya memberimu satu tantangan, “kamu harus menemuiku disebuah persimpangan, kemudian kita akan berjalan bersama” saya tunggu kamu disana, kataku dengan yakin dan kamu menyanggupinya.

Saya tahu kamu teramat lelah melewatinya tapi tidak dengan semangatmu Cuma fisikmu, kamu selalu meyakinkanku dengan senyum optimismu untuk bisa menggapai itu demi sederetan mimpi.

Empat Musim yang telah kamu lalui..

Musim yang pertama yang kamu lalui adalah musim Semi. Jika di Jepang musim semi adalah musim peralihan dari musim dingin ke musim panas dimana tumbuh-tumbuhan mekar kembali karena itulah disebut musim bunga, tapi kamu telah melewati musim semi yang berbeda. Dimana kamu telah mencoba keluar dari kebiasaan kamu yang ketika selesai kuliah langsung kembali ke rumah menuju hari-hari kamu yang disibukkan dengan suatu hal yang akan menyita banyak waktu bersantaimu dan menyita waktu tidur siangmu.
Musim kedua yang kamu lalui adalah musim panas, saya tidak begitu jelas dengan musim yang satu ini tapi yang pastinya ini pernah kamu lalui waktu itu. Kamu sempat kehilangan senyummu selama beberapa hari dimusim panas ini.. tapi itu tidak masalah karena saya yakin kamu masih bisa mengukir senyum seperti biasanya jika musim panas berlalu. 

Musim panas telah berlalu berganti musim gugur, tapi bukan berarti kamu berhenti menunggu mencuatnya mentari di pagi hari karena saya dan kamu tahu pasti mentari di pagi hari akan selalu setia bersama pagi seperti kamu yang setia mengukir lengkungan senyumku. Putus asa dan pesimis identik dengan musim ini, tapi kamu tidak.. mereka rela lepas dan pergi bersama hembusan angin dengan membawa putus asa dan pesimisnya. Dan kamu berhasil melalui musim gugur ini.. meski kamu sesekali memintaku untuk ikut gugur bersama angin bak dedaunan yang lepas dari tangkainya tapi kamu masih mampu melumpuhkan rasa pesimis itu demi sebuah harapan dan janjimu kepada saya.

“Selama masih ada harapan dan orang-orang yang mendukungku,, saya tidak akan mundur” kata ini semakin meyakinkanku bahwa kamu akan datang..
Musim dingin tiba, tempat dimana kamu berjanji untuk menemuiku …
Bintang, lilin, dan jejeran lampion jadi temanku malam itu sambil menyelami dinginnya malam. Saya ingin sekali menyapamu dimalam itu, tapi kamu tidak mengizinkanku untuk malam itu. Saya hanya bisa sesekali mencuri pandang diantara lilin yang berjejer yang juga jadi temanmu malam itu.

Source image:
Satu persatu bintang pamit dan menghilang dari pandanganku berganti fajar yang semakin dekat menemani sinarnya lilin-lilin yang tidak lama lagi akan pupus dan lebur namun menyisakan bekas.
Hembusan angin yang dingin mulai merayu dedaunan dan rumput untuk hening dengan disaksikan lilin dan obor yang juga diam membisu mendengarkan kata-kata yang kamu ikrarkan.. Itu juga sebagai tanda kamu akan segera menemuiku dan akan berjalan bersamaku, bersama jejeran mimpi-mimpi kita. Semua itu atas nama impian, cinta, dan cita-cita.

            *Desa Ko’mara, 25 Mei 2014

Selasa, 08 April 2014

Enrekang: Ini Bukan Tantangan Tapi Petualangan

Terlalu lama saya mendekam dalam zona nyaman selama ini, setiap hari dimanjakan dengan ruangan yang ber-AC dan fasilitas internet yang sangat memadai disebuah kantor. Namun kali ini saya betul-betul bisa menikmati petualangan saya yang terbilang cukup menantang, kata teman saya.

Untuk pertama kalinya menikmati angin malam Kota Palopo disebuah Kafe untuk mengadakan sebuah breafing persiapan liputan ke Daerah-daerah yang diadakan oleh Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas dalam rangka "Survei Pemilu Legislatif 2014", liputan ini sebagai bahan pemberitaan/artikel hasil hitung cepat (Quick Count) di Harian Kompas, Kompas TV, dan Kompas.com. Breafing berlangsung dari sejak jam sembilan malam hingga jam satu lebih tigapuluh menit dinihari dan ditetapkan saya bertugas dilokasi terpencil di Bumi Massenrempulu - Enrekang. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan malam bersama disebuah warung makan. Setelah itu kembali memikirkan tempat di mana kami akan melepas lelah setelah menjalani perjalanan jauh dari Kota Makassar selama kurang lebih sembilan jam dan dilanjutkan dengan breafing yang cukup membuat badan terasa letih.

Setelah berembuk bersama tim, akhirnya diputuskan untuk menyewa kamar disebuah Wisma di Kota Palopo, Wisma Haifa yang terletak di Jln. Jend. Sudirman. Waktu sudah menunjukkan jam dua dinihari buat kami merasa sangat lelah dan badan sudah menuntut untuk segara diistirahatkan karena besok paginya harus berangkat ke Lokasi tugas masing-masing. 

Sebelum ke terminal Palopo saya menyempatkan diri untuk isi ulang pulsa sebagai persiapan komunikasi di lokasi, tulis nomor handphone, pulsa dua puluh Ribu, bayar, kemudian tinggalkan kios tanpa memastikan pulsanya sudah terkirim atau belum. Saya baru tersadar setelah berada di atas mobil kalau pulsa yang saya bayar tidak masuk.. ya sudahlah.. sudah terlanjur..ikhlaskan.

Memulai perjalanan dari Kota Palopo tepat jam delapan dan tiba di sebuah daerah yang sangat terkenal dengan ciri khas budayanya di Sulawesi Selatan. Yah Tana Toraja yang memiliki jejeran rumah adat Tongkonan sebagai ciri khasnya. Saya tiba di Kota Makale jam sebelas lebih tiga puluh menit yang kemudian mengharuskan saya mencari mobil tumpangan lain yang bisa melanjutkan perjalanan saya menuju Kabupaten Enrekang. Sekitar satu setangah jam lama perjalanan sejak dari terminal Makale ke Kabupaten Enrekang mengharuskan saya untuk turun dan naik lagi ke mobil yang akan mengantarkan saya menuju pasar Cakke, salah satu nama tempat di Enrekang.

Tiba di depan Pasar Cakke saya turun dan bertanya jalan menuju Kecamatan Malua dan harus naik kendaraan apa untuk kesana. Ternyata ada dua alternatif, naik mobil angkutan umum yang menuju Baraka atau naik Ojek. Untuk sampai ke tempat tujuan di sebuah dusun yang bernama Batubila Desa Bonto Kecamatan Kecamatan Malua, masih harus menempuh perjalanan sekitar 20 Km dari pasar Cakke sedangkan konfirmator dari Kompas pusat setiap saat menelepon dimana keberadaan saya.

Mengejar waktu interview yang seharusnya dimulai jam sembilan pagi pagi hingga jam satu siang rasanya sudah tidak mungkin, sudah sangat terlambat, saya memutuskan untuk naik ojek saja dibanding harus naik mobil tumpangan yang saya pastikan akan memakan waktu yang lama ke tempat tujuan. Saya menghampiri seorang warga kemudian sedikit bertanya tentang letak tempat tujuan saya ternyata dia tidak begitu tahu tempat tersebut tapi dia menawarkan saya menumpangi ojek milik anaknya.

Pesona alam Enrekang ternyata tidak hanya memiliki pemandangan gunung nona yang memukau seperti yang saya kunjungi di tiga tahun sebelumnya, perjalanan dari desa Cakke menuju Baraka membuat saya cukup menikmati keindahan alam tebing Bambapuang yang masih satu kecamatan dengan Cakke yaitu Kecamatan Anggeraja, salah satu tebing yang katanya selalu jadi incaran para pemanjat tebing tanah air, kata tukang ojek yang mengantar saya yang juga kebetulan masih berstatus sebagai salah seorang mahasiswa dua digit di universitas swasta di Kota Makassar.

Sumber: http://enrekang.com/?p=476
Selain pemandangan pegunungan batu gamping yang terjal dan tinggi-tinggi, disepanjang jalan juga terdapat hamparan pegunugan padang rumput yang hanya ditumbuhi beberapa pohon pinus yang luas nan hijau, Gunung Cekong namanya. Selain saya mengejar waktu lebih cepat dibanding naik mobil ternyata saya bisa betul-betul merasa refresh dengan naik motor.


Sumber
Sekitar satu jam menyusuri jalan yang terbuat dari beton ditambah dengan  modal bertanya akhirnya saya menemukan Kantor Desa Bonto yang saya cari. Tapi bukan itu yang pertama saya cari, tapi saya harus menemui seorang responden yang sebelumnya telah ditentukan. Masih ditemani oleh tukang Ojek, saya diantar bolak balik mencari rumah responden tapi tidak ketemu-ketemu juga. Dan memutuskan untuk kembali ke kantor Desa dengan harapan bisa mendapat informasi lebih tentang responden yang akan saya temui. Diperjalan saya berpapasan dengan seorang guru yang masih berpakaian dinas Linmas kemudian bertanya, "Permisi bu, maaf saya dari Harian Kompas mau bertanya dimana rumah Bu Ratna?" kataku dengan nada halus. "Iya, kebetulan saya kakaknya..tapi dia lagi ke Kota Makassar. ada apa?" menjawab dengan ekspresi standar. "Ini ada sedikit keperluan interview dengan beliau". "Oh iya, mungkin nanti besok baru kembali". Saya minta pamit dan memutuskan untuk kembali ke Kantor Desa dan saya disambut dengan seorang Sekretaris Desa dan seorang perempuan tua bersama putri kecilnya. Setelah lama berbincang dan cari tahu tentang responden dengan sekretaris desa sambil menikmati secangkir  kopi susu hangat. Saya memutuskan untuk kembali mencari rumah responden yang katanya tinggal tidak jauh dari Kantor Desa dan juga katanya Responden tidak ke Makassar. Setelah dihubungi lewat telepon katanya beliau berada di rumahnya dan bersedia untuk didantangi. Ternyata Bu Ratna yang dimaksud sebelumnya adalah Bu Ratna yang lain yang kebetulan tetanggaan juga profesinya adalah seorang guru seperti Bu Ratna responden yang saya cari.

Saya diantar oleh seorang pemuda yang memakai motor Thunder merah untuk menemukan rumahnya. Tiba dirumanya tapi yang saya temui adalah suaminya yang sedang bermain bersama anaknya di kolong rumah. ”Assalamu’alaikum pak, saya Yudi dari Kompas.. ada Ibu Ratna? “ Tanyaku dengan sopan. “Oh iya dik, beliau sedang mengajar ngaji sekarang..tunggu sebentar” sambil berbincang tentang maksud kedantangan saya jauh-jauh ke Desa Bonto tidak lama kemudian Ibu Ratna datang dan langsung berjabat tangan dan perkenalkan diri kalau saya dari Tim survei Kompas jauh-jauh ke tempatnya hanya ingin bertemu beliau.

Bersama Bu Ratna
Setelah wawancara singkat bersama Bu Ratna akhirnya saya minta pamit dan bertanya tentang dimana letak Rumah Kepala Desa Bonto, Ternyata tempatnya berada di kelurahan sebelah Desa Bonto yang jaraknya agak jauh dari rumah bu Ratna. Untungnya suami Bu Ratna punya motor dan bersedia dengan senanghati mengantarkan saya ke rumah Pak Muhaning Kepala Desa Bonto. Saya harus menemui beliau untuk memberitahukan maksud dan tujuan kedantangan saya di Desanya juga untuk menanyakan dimana saya bisa menginap. “Sebenarnya ada penginapan tapi letaknya sangat jauh dari sini sedangkan adik tidak punya kendaraan, Bagaimana kalau menginap saja disini yang penting mau tidur ditempat sederhana seperti ini”. Katanya dengan ekspresi senang.. “Oh iya pak terima kasih banyak, maaf merepotkan bapak” balas ku dengan senyum. Sebelumnya saya sudah berencana kalau tidak bisa menumpang di rumah Kepala Desa, saya ke rumah Kepala Dusun lagi atau kalau perlu sampai ke rumah Pak RT yang penting bisa dapat tumpangan menginap dulu. Begitulah cara saya survive ketika berada di kampung orang lain sendiri, tidak punya kendaraan dan tidak punya siapa-siapa. Saya selalu yakin pada diri saya sendiri.. ketika kita bisa berbuat baik, sopan dan santun kepada orang lain, maka orang lain akan memperlakukan kita dengan hal yang sama. Bagi saya ini bukan lagi tantangan, tapi petualangan yang menyenangkan..

*Bumi Massenrempulu, 8 April 2014

Senin, 10 Februari 2014

Peluh dan Telur

Disini lebih tenang..
disini lebih luas..
seluas mata memandang
ketika sesekali memandang keluar jendela ..
Setiap hari lebih nyaman kuhabiskan di tempat ini..

Kantor yang tempatnya dilantai yang cukup tinggi disebuah gedung megah (kata orang) dengan sebutan gedung  tinggi pertama di Indonesia dengan model Hiperbolic Paraboloid versi Building Indonesia, lantai dua belas Menara Pinisi UNM tepatnya dan kantor Career Development Center (CDC) lebih lengkapnya.

Seperti biasanya hari senin pagi adalah jadwal saya tiba lebih awal dikantor sambil merampungkan pekerjaan-pekerjaan yang masih belum kelar. Belum mengerjakan sesuatu tiba-tiba handphone saya berdering bertanda  paggilan masuk. "Halo, Pak Yudi .. dimana? kalau bisa sekarang ke sekolah dulu ikut pertemuan Operator.Penting" Terdengar jelas suara seorang wanita yang selama ini saya anggap sebagai orang terdekatnya Kepala Sekolah tempat saya nebeng status sebagai tenaga honorer. 

Sebenarnya saya merasa agak berat karena sebelumnya saya sudah agendakan bahwa saya akan menyelesaikan pekerjaan di kantor. Tapi kembali mempertimbangkan panggilannya juga cukup penting dan mendesak untuk segera dilaksanaka. Terlepas saya sebagai seorang Operator Sekolah yang tanggung jawab saya memang ada dibagian itu, dan memang saya seharusnya ada disana yang tidak ingin kehilangan kerpercayaan dari seorang pimpinan.

Ya sudah, saya segera menarik ransel forester hitam saya kemudian berjalan menuju lift dan segera meninggalkan basement tempat saya parkir sebelumnya.

Peluh sedikit mengucur di dahi saya ketika pas memasuki ruangan pertemuan itu. Untung saya duduk tepat berada  dikursi paling depan yang berdekatan dengan kipas angin dan perlahan mengering seiring kesibukan saya mempersiapkan data sekolah yang harus segera disetor kepada tim khusus dari Dinas Pendidikan.
Tidak perlu memakan waktu yang lama untuk menyelesaikan semuanya, saya mengerjakan sesuai dengan apa yang disampaikan oleh instruktur.

Tanggung jawab selesai dan saatnya melapor sekaligus pamit kepada Kepala Sekolah untuk kembali ke kantor sebelumnya...

"Bagaimana Pak Yudi, kenapa baru datang?" Tanyanya dengan santai..
"Sudah selesai semuanya saya kerjakan Bu dan sudah saya setor. dan sekarang saya sudah mau pamit untuk kembali ke kantor" Kata saya menjawab pertanyaan beliau..

"Oh iya, ini telur untukmu.." sambil menyodorkan sebutir telur masak yang beliau pegang sejak pertama kali saya masuk ruangannya. 


                                 


Saya banyak diajarkan oleh Ibu tentang bagaimana menjunjung amanah dan kepercayaan yang diberikan kepada orang walau harus menguras waktu, pikiran dan tenaga, juga diajarkan untuk menghargai sebuah pemberian orang lain apa pun itu.

*RE, 10 Februari 2014





Sabtu, 08 Februari 2014

Topi Hitam dari Pak Chandra Lee

*Sembilan bulan yang lalu ....
Sebuah kebiasaan lama saya ketika berada dikampus dan kegiatan perkuliahan selesai biasanya saya langsung ke tempat lain atau masuk ke ruang prodi. Lumayan sejuk ketika berada di dalamnya, apalagi ditambah dengan segelas seduhan Kopi Susu sambil berselancar di dunia maya. Sebenarnya bukan tempat umum yang semua mahasiswa bisa duduk di dalam. Tapi saya kurang tahu bagaimana awalnya sehingga saya bisa akrab dengan mereka.. ngopi bersama pula.

Bukan topi biasa .. hehe :)
Perlahan saya membuka laptop Toshiba Hitam saya  waktu itu, tapi perhatian saya teralihkan dengan adanya terbitan baru Tabloid Kampus yang tergeletak begitu saja diatas meja yang ada tepat di depan saya.  Membuka lembaran demi lembaran sambil menyusuri berita-berita kampus yang menarik untuk dibaca sambil minum kopi susu. Dan pandangan saya terhenti tepat di sebuah gambar brosur yang bertuliskan “Kuliah Umum bersama Chandra Lee dan Alwi Hamu di Graha Pena…” dan seterusnya. Gratis.. Mecocokkan waktu yang tertera digambar itu dengan jam digital dibagian sudut kanan bawah laptop, ternyata jadwalnya hari ini dan masih tersisa satu jam lagi acaranya dimulai. Dialog saya dalam hati …

Merasa tertarik dengan acara ini saya bergegas merapikan perangkat-perangkat yang saya keluarkan dari tas, juga menghabiskan kopi susu yang masih tersisa setengah gelas dan segera pamit sama Pak Basir dan Pak Zainuddin kepala laboratorium komputer dan staff prodi yang ketika itu sedang berada dalam ruangan prodi juga.

Cukup terik siang itu, ditambah dengan macetnya sepanjang jalan AP.Pettarani. Tiba di basement Graha Pena yang tempat parkirnya juga cukup sesak dipenuhi oleh kendaraan bermotor. Tapi tidak apalah … Kata orang “Kalau mau jadi orang sukses harus banyak-banyak mendengarkan cerita orang-orang yang telah sukses”..


***

Acara dimulai dan langsung dibuka oleh Chairman Fajar Group Bapak Alwi Hamu sekaligus bercerita tentang bagaimana kerja keras beliau hingga bisa mendirikan sebuah perusahaan besar dan banyak anak perusahaan. Satu hal yang saya masih ingat dari pembiacaraan beliau adalah “Masa depan ada ditangan masing-masing, bukan ditangan orang lain, oleh Karena itu mari berkarya untuk negeri ini".

Pembicara kedua adalah seorang pengusaha yang sukses dengan Maskapai penerbangannya “Sriwijaya Air”  Pak Chandra Lee. Tidak jauh berbeda denga Pak Alwi Hamu, beliau juga bercerita bagaimana jatuh bangun mendirikan sebuah perusahaan maskapai penerbangan yang sukses jelajah angkasa hingga saat ini. Satu hal yang selalu ditekankan beliau adalah “Giving the best services to many peoples” memberikan pelayanan yang terbaik kepada banyak orang. Dan diakhir sesi dari beliau bagi-bagi cindramata dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan Sejarah Sriwijaya Air. Pertanyaan pertama dari beliau cukup simple “Berapa hari usia Sriwijaya Air jika di hingga pada hari ini?” Ratusan handphone mulai dikeluarkan oleh peserta untuk mencari menu kalkulator-nya. sedangkan saya asyik melihat mereka yang jago hitung. Mereka Acungkan tangan satu per satu dengan meneriakkan jumlah angka yang sama persis yang ditunjukkan oleh layar handphone-nya, namun dari dua orang yang ditunjuk untuk menjawab tidak seorang pun yang menjawab dengan benar.

Mendengar bisikan halus dari peserta yang duduk tidak jauh dari kursiku mengucapkan dengan angka yang berbeda tapi ragu mengucapkannya. Cukup jelas saya dengar jumlah angkanya kemudian saya catat di Note handphoneku dan langsung berdiri sambil mengacungkan tangan. “Terima kasih atas kesempatannya, usia Sriwijaya Air hingga hari ini jika dihitung dari tanggal berdirinya adalah ……”. “Nah, itu baru betul .. silahkan naik kesini dulu nak, kita foto bersama” kata beliau … sebelum foto bersama beliau, saya diberi sebuah Topi hitam berukir Logo Sriwijaya Air didepannya.

Sabtu, 01 Februari 2014

D' Words

Before
Seperti dengan rencana awal saya di tgl. 1 Januari lalu yang mengatakan ditahun 2014 "Kurcaci Peradaban" harus berganti nama. dan akhirnya berubah nama menjadi "Long Term Writing" Selanjutnya alasan kenapa mesti "Long Term Writing". Kata writing tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita semua, "Menulis, tulisan, atau karangan". Sedangkan kata Long Term Memory saya ambil dari istilah komputer yang mungkin juga sama dengan istilah di dunia lain yaitu "Ingatan (Memory) jangka panjang". Nah, jika disatukan Long Term writing menurut versi saya adalah Sebuah sesembahan tulisan atau karangan  sederhana yang bisa dijadikan jejak hidup. Nama itu cukup bagus, seperti komentar adek yang mengatakan “The new name's good (y). It seems more impressive kak..” …

Tapi saya terkadang tertawa sendiri ketika mendengar teman saya menyebutkan nama blog saya yang tidak sesuai dengan Makhraj Hurufnya.. eh pronounciation-nya hehe…

Kemarin disepanjang jalan diatas kendaraan, saya hanya memikirkan nama simple untuk blog saya agar penyebutannya lebih simple dan nyaman didengar. Ahaaa … sambil mendengar suara-suara lagu yang saya tidak tahu dari mana sumbernya..lagu “More than Word” yang dipopulerkan oleh Westlife. Bagaimana kalau The Word saja … tapi terlalu datar menurut saya. Maka dibuat agak sedikit keren menjadi D’Word + s (D’ Words).

“Setiap tindakan harus punya alasan … “
                                                          

                                           
Now
              



1 Februari

Merasa berhutang budi dengan buku yang saya baca tadi malam, katanya "Jangan biarkan kertas kosong menguning tanpa tulisan, dan jangan biarkan tanganmu menjauh dari otakmu". Ok baiklah, let's begin....

Januari begitu cepat berubah dan meninggalkan masanya,,,
Seperti dihari-hari biasanya setiap pagi selalu dimulai dengan aktivitas rutin saya sebagai tenaga honorer disebuah sekolah negeri yang tidak jauh dari tempat tinggal saya sekarang. Aktivitas yang saya jadikan sebagai pengisi waktu luang diluar jam kuliah sejak setahun yang lalu. Tapi dalam tiga bulan terakhir ini aktivitas pagi saya sudah terbagi, selain disekolah saya juga mengisi kesibukan disebuah lembaga yang khusus menangani masalah pengembangan karir mahasiswa dan alumni. Career Development Center (CDC) istilah kerennya.. lembaga ini berkantor di lantai dua belas gedung pinisi Universitas Negeri Pencetak Generasi Oemar Bakri. Akronimnya bukan UNPGOB .. tapi resminya disebut Universitas Negeri Makassar disingkat menjadi UNM bukan Unem apalagi Uneng. Haha .. banyak basa basinya ...

Setengah hari waktu saya habis hanya untuk duduk diam menantapi layar laptop yang berada di atas meja tepat berada di dapan saya duduk, sambil menikmati segelas kopi susu hangat hasil seduhan siswa di kantor ...
Setelah semuanya rampung, tiba-tiba handphone putih saya berdering penanda pesan masuk. Ternyata pesan singkat Fatimah yang lagi terhalang hujan di gedung Pinisi bersama Dani sahabatnya. Rencana awal adalah kembali kerumah untuk makan siang tapi tuntutan hati lebih besar untuk ikut menemani mereka disana...
Waktu yang kurang lebih dua jam lebih bersama mereka terasa berlalu sangat cepat. Begitulah katanya kalau cinta... *asyikk....

Nyaris Ketinggalan Kopdar Perdana
Rencana awal saya berangkat menghadiri sebuah Kopdar (Kopi Darat) Blogger Kampus  perdana yang diadakan di pelataran gedung Ipteks Universitas Hasanuddin pukul tiga tepat, tapi berhubung hujan masih belum memungkinkan untuk dilewati. Akhirnya setelah makan siang saya bersama Fatimah dan Dani memutuskan untuk berteduh sambil menunggu shalat Ashar di masjid kampus yang tidak jauh dari gedung pinisi juga menunggu konfirmasi dari Kak Najib dan kawan-kawan. Pukul empat lewat seperempat menit sudah, tapi belum ada konfirmasi dari mereka. Berhubung waktu sudah sangat molor dari rencana, saya memutuskan untuk bersolo karir berangkat ke Unhas. Tepat jam lima saya tiba dan gabung duduk lesehan bersama para blogger-blogger kampus se-kota Makassar. Ternyata pembahasannya belum cukup jauh dan sepertinya yang terlewati hanya sesi perkenalan. Pembicaraan cukup alot membahas tentang keanggotaan, pengembang website, dan logo. Tapi ujung-ujungnya yang diberi tanggung jawab buat jadi tim pengembang web adalah saya dibantu oleh tiga rekan lainnya. Desain logo pun begitu ...

Tiba-tiba Berada di Hardvard
Kalau kepergian saya ke Unhas solo karir, kepulangan saya bersama Kak Mujahid dan Kak Akbar...
Setelah shalat maghrib berjamaah di Meskam (Mesjid Kampus) Unhas kami bertiga bergerak meninggalkan lokasi Unhas kemudian mereka berdua membawa saya kesebuah tempat yang cukup asing bagi saya. Masuk pintu utama kemudian langsung masuk disebuah ruang kelas dengan disambut ramah oleh tentornya sendiri. "Hello brother, welcome to our class,, take a sit please ... " katanya dengan ramah. "Ok. . thanks.." jawabku dengan singkat...



Mencoba beradaptasi dengan situasi genting seperti ini saya mencoba membaca catatan teman yang berada disamping saya. Ternyata mereka lagi berdiskusi berdasarkan tema yang sudah ditentukan oleh si Mister yang berpakaian rapi dengan mengenakan kemeja putih agak kemerahan, memakai dasi dan bersepatu pantofel hitam mengkilap. Saya berada di kelompok ketiga dengan topik "Modern and traditional market".
Yah tidak begitu sulit bagi saya untuk beradaptasi dengan suasana seperti ini karena sebelumnya sudah terbiasa di meeting UEF (United English Forum), pernah jadi student tetap di Kelas New Zealand Mindset English Center (MEC), pernah di Kelas Speaking Briton International English Course, juga pernah di Vermonia English Tutorial, dan kali ini saya masuk dadakan Kelas English Holiday di Hardvard English College milik Kak Akbar.
"Nevermind ... i'm so happy with this moment... ".

Rumah Baru dan Acara Milad 
Kurang lebih satu jam berada diruangan, akhirnya diskusinya  selesai. Saya bersama Kak Mujahid dan Kak Akbar bergegas menuju rute berikutnya yaitu "Rumah Nalar". Setiba di sana ternyata lagi ada acara Rumah Baru yang jaraknya sangat dekat dengan Rumah Nalar sekaligus acara milad.  
Ok... terima kasih atas makan malamnya buat Kak Ilham dkk sebagai penghuni rumah baru dan juga selamat ulang tahun juga buat dua orang adik yang ulang tahun.

*Rumah Edukasi, 01 Februari 2014

Jumat, 31 Januari 2014

Like Mother, Like Son

Berbeda dengan idiom atau istilah yang booming di masyarakat, "Like father, like son" perilaku anaknya sama dengan perilaku ayahnya. Hal ini mungkin tidak berlaku pada saya.. Bagaimana saya bisa meniru perilaku ayah saya kalau sejak kecil hingga sekarang masih mencari-cari bagaimana sosok dan karakter ayah saya yang sebenarnya? sekali lagi saya katakan mungkin ini tidak berlaku pada saya. Lain halnya juga dengan pepatah yang senada dengan istilah yang booming itu mengatakan "Buah jatuh tak jauh dari pohonnya", kalau pepatah ini masih bisa saya terima karena masih multitafsir. Bukannya saya tidak begitu cinta atau tidak kagum dengan sosok seorang ayah, tapi sungguh saya susah menebak-nebak bagaimana sosok beliau. Intinya saya selalu berusaha mencari sosoknya dan selalu mengirimkan do'a semoga almarhum beliau tetap tenang di alam sana.

Saya adalah salah satu dari jutaan anak yang menjadikan IBU sebagai teladan .. 
Bagi saya bukan cuma disetiap tanggal 22 Desember sebagai hari spesial ibu, tapi hari-hari lain pun Ibu tetap jadi spesial. 

Like mother, like son adalah idiom yang cocok untuk saya...
Sejak kecil saya banyak belajar segala hal dari ibu, mulai dari setiap siang hari mengajari saya untuk baca Qur'an walaupun saya akui saya sering menghilang jika waktu mengaji sudah tiba. Ketika malam tiba sebelum naik ke tempat tidur harus membaca buku dan menghafal perkalian, begitu disetiap malamnya. Sedari kecil saya tidak dimanjakan dengan uang jajan yang selalu ada disetiap meminta kepada ibu, beliau hanya bisa berkata "Sabar nak, kalau ada yang bisa saya berikan,, pasti saya akan beri". Yah, saya bisa merasakan betapa sulitnya mencari uang yang harus bercucuran keringat juga harus pandai berhemat.

source image: http://rumahkeluarga-indonesia.com/


Jangan Gengsi walau Berdasi
Beliau seorang pendidik yang tegar juga sabar, saya tidak pernah melihat beliau marah. Jangankan marah sama orang lain, sama saya pun tidak pernah marah sedikitpun *seingatku. Kerja keras beliau adalah contoh yang selalu diperlihatkan oleh anak-anaknya. Dialah ibu yang selalu menginatkan "Jangan sekali-kali menjadi orang yang gengsi, kita hanya orang sederhana jadi tidak ada yang perlu digengsikan walaupun kamu orang yang berpendidikan". Yah selalu mengajarkan kepada kami tentang keserhanaan. Menjadi seorang mahasiswa bukan berarti tidak mau lagi bantu orang tua di sawah dengan mengenakan pakaian yang kumal.

Belajar Masak Berawal dari Berburu Ikan Karper dan Belut
Sebuah kebiasaan dimasa kecil saya ketika musim hujan tiba, sepulang sekolah langsung ganti baju kemudian mencari ember dan timba kemudian berangkat ke area persawahan yang tempatnya tidak jauh dari rumah. Munyusuri setiap sudut-sudut irigasi persawahan untuk mencari ikan yang tak bertuan. Kata tetangga saya, "tidak ada yang berhak melarang kamu untuk menangkap ikan itu, karena setiap ikan yang lepas sudah bukan milik siapa-siapa". 

Sepulang dari berburu ikan terkadang membawa hasil tangkapan ikan karper hingga 4 ekor, atau bahkan tidak ada seekor pun. Disini saya belajar bagaimana berusaha ..

Lain halnya jika musim panas tiba, lagi-lagi sewaktu kecil disiang hari saya selalu menghabiskan waktu untuk mem-bolang kesana-kemari. Kalau tidak sibuk manjat pohon buat pasang perangkap burung, saya juga hobby dengan memancing.. Bukan memancing ikan, tapi mencing belut di area persawahan. dan ini juga yang selalu mengajarkan saya tentang kesabaran.

Sepulang dari berburu biasanya saya masak sendiri, yah tentunya ibu saya selalu menjadi responden setia jika saya mau masak. Mulai dari bagaimana mana memasak nasi pakai tungku yang bahan bakarnya dari kayu yang berbeda dengan masak nasi pakai kompor minyak, apalagi pakai kompor gas. Mengajarkan saya untuk memasak sayur juga mengolah hasil buruan diluar sana. Ibuku guru yang baik ...

Satu pesan sederhana yang beliau selalu katakan, " Kemanapun kamu akan pergi silahkan, selama itu baik bagi dirimu dan juga baik untuk orang banyak".


*RE, 01 Februari 2014


Followers

Terima Kasih atas kunjungan anda, Jangan lupa Follow, dan komentarnya !!!