Sabtu, 15 Oktober 2022

TIPS APLIKASI GOOGLE CERTIFIED TRAINER (GCT)

 Kiat untuk aplikasi Certified Trainer

Elemen aplikasi yang kami tekankan untuk pelamar yang memenuhi syarat mencakup latar belakang kandidat dalam teknologi pendidikan, pengalaman dalam memberikan pengembangan profesional berkualitas tinggi, dan penguasaan alat Google for Education. Pelamar yang kuat juga menunjukkan semangat yang diperlukan untuk memberikan dampak positif pada pendidikan di wilayah mereka - melampaui ruang kelas atau sistem sekolah masing-masing - dan kami dapat melihat buktinya dalam aplikasi.

Ada kemungkinan bahwa Anda memenuhi elemen-elemen ini, tetapi sering kali tidak terpilih adalah hasil dari aplikasi yang tidak lengkap. Komite peninjau tidak dapat memverifikasi berdasarkan informasi yang Anda berikan. Untuk meningkatkan peluang Anda untuk diterima di masa depan, perhatikan beberapa alasan umum yang menurunkan skor keseluruhan kandidat.

  • Anda harus menyertakan tautan ke materi pelatihan Anda, dan tautan tersebut harus dapat dilihat. Dalam studi kasus Anda, harap sertakan tautan publik ke materi pelatihan yang telah Anda buat dan pastikan tautan ini dapat dilihat oleh "siapa saja yang memiliki tautan". Ini mungkin termasuk situs, dokumen, presentasi, atau video lainnya. Juga, pastikan untuk menautkan ke sumber asli Anda untuk studi kasus Anda. Panitia penilai harus bisa membedakan antara bahan yang dibuat sendiri dan orang lain.

  • Anda harus menyertakan tautan ke bukti dan umpan balik pelatihan , dan tautan tersebut harus dapat dilihat . Pelamar harus berkomitmen untuk menunjukkan melalui materi yang disampaikan dampak pelatihan pada fakultas pengajaran. Kami mencari pelamar untuk mengukur dan melacak pertumbuhan pengembangan profesional guru. Menggunakan Google Formulir adalah cara yang bagus untuk mengumpulkan, menganalisis, dan membagikan masukan ini. Jika Anda memilih metode ini untuk membagikan umpan balik yang Anda terima, sebaiknya periksa kembali apakah tautan ke tanggapan dapat dilihat oleh orang lain sehingga kami dapat menilai data evaluasi dengan benar.

  • Sertifikasi tidak diunggah, kedaluwarsa, atau hanya menunjukkan lencana (bukan sertifikat). Tiga sertifikat yang diperlukan adalah Google Certified Educator Level 1 + 2, Trainer Essentials, atau Trainer Skills Assessment - yang lainnya tidak akan diterima. Lencana sertifikasi tidak akan diterima. Selain itu, pastikan Anda memasukkan URL yang benar di bidang masing-masing.

  • Sertifikat Kedaluwarsa. Kami baru-baru ini mengubah validitas sertifikat dari 2 menjadi 3 tahun. Jika milik Anda ditampilkan sebagai kedaluwarsa dan Anda masih dalam jangka waktu tiga tahun, harap masuk kembali ke webassessor.com untuk mengunduh ulang sertifikat Anda yang telah diperbarui. Jika Anda berada di luar jendela tiga tahun, Anda harus melakukan sertifikasi ulang. 

  • Video harus berdurasi 3 menit atau kurang dan berfokus pada bagaimana Alat Google for Education dapat meningkatkan efisiensi dan mendefinisikan kembali pembelajaran di kelas.Pengaturan video harus diatur ke dapat dilihat. Kami sedang mengevaluasi kemampuan dan gaya latihan Anda dalam video. Beberapa tidak mencerminkan integrasi alat yang digunakan dengan siswa dan beberapa tidak menunjukkan "Googliness" pelamar. Kualitas video sangat penting. Video Anda harus diposting di Youtube atau di Google Drive dan harus dapat dilihat oleh peninjau aplikasi. Gunakan menit pertama untuk berbicara tentang diri Anda dan peran Anda terkait G Suite for Education. Gunakan sisa waktu dua menit untuk mengajarkan tutorial menggunakan satu atau beberapa alat G Suite dengan cara yang inovatif. Pertimbangkan untuk tidak hanya mendemonstrasikan alat tersebut, tetapi juga bagaimana Anda akan menggunakannya di kelas dengan cara yang kreatif.Pastikan untuk fokus pada alat G Suite, bukan aplikasi pihak ketiga. 

  • Lima pelatihan dan studi kasus terbaru harus dilakukan dalam tahun kalender terakhir. Karena Anda akan diminta untuk mengirimkan 12 pelatihan setahun saat diterima sebagai Pelatih Tesertifikasi Google, pastikan untuk mencantumkan lima pelatihan terbaru daripada acara lebih dari satu tahun yang lalu.

 

 

Sumber: https://googleedu.onlineapplications.net/


Selasa, 21 Februari 2017

Menjadi Insan Terdidik dan Mengabdi Sepenuhnya Untuk Indonesia

Saya anak bungsu dari tiga bersaudara dan dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana tapi dibesarkan oleh seorang ibu yang luarbiasa. Sejak umur tiga tahun keluarga tidak lagi merasakan hangatnya kasih sayang dan kebijaksanaan dari seorang ayah layaknya orang kebanyakan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi ibu saya untuk membesarkan tiga orang anaknya dengan penuh kesabaran. Ibu yang hanya berprofesi sebagai penjual kopi susu disebuah kedai kecil di kampung hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, bersabar dan mendidik anaknya. Meskipun dibesarkan dari keluarga yang sederhana, tapi semangat ibu untuk memberikan pendidikan yang layak kepada anaknya sangat tinggi karena dengan pendidikan bisa merubah nasib keluarga yang lebih baik dan dengan pendidikan pula kita bisa memberikan kontribusi nyata bangsa ini.

Usaha untuk merubah citra keluarga saya mulai sejak duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) tidak hanya berusaha menjadi terbaik di dalam kelas juga dengan mengikuti dan menjuarai lomba-lomba yang diadakan didaerah saya seperti lomba mengaji dan lomba kepramukaan. Dibangku SMP saya sudah dipercayakan untuk menjadi Ketua Remaja Masjid dilingkungan masyarakat tempat saya tinggal. Sebagai ketua remaja masjid saya dipercayakan sebagai penggerak kegiatan di masjid. Begitupun ketika saya SMA tidak hanya sebagai pemegang peringkat pertama dikelas tapi saya juga sering menjuarai lomba mulai ditingkat sekolah hingga di provinsi seperti OSN Bidang Studi TIK, lomba bognkar pasang senjata dan lomba karya tulis ilmiah . Selain itu saya juga dipercayakan untuk menjadi seorang ketua umum OSIS di SMA selama dua periode dan sebagai penggagas ekstarkurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) di SMA Negeri 1 Sinjai Barat. Hal tersebut membawa saya untuk lulus pada jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) dan sebagai salah seorang dari 350 penerima Bidikmisi pertama di Universitas Negeri Makassar.

Kesyukuran terbesar saya kepada Tuhan dan terima kasih saya yang tidak terhingga kepada pemerintah Indonesia karena memberikan saya kesempatan untuk mengenyam pendidikan dibangku perkuliahan. Selama dibangku kuliah selain aktif dalam hal akademik yang dibuktikan dengan terpilihnya saya sebagai asisten dosen, saya juga aktif dibeberapa organisasi kemahasiswaan maupun organisasi kemasyarakatan serta banyak mengikuti pelatihan, workshop maupun seminar sehingga apa yang saya dapatkan bisa saya berikan kepada orang banyak. Salah satu oragasasi yang memberikan saya banyak pelajaran adalah Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran UNM. LPM Penalaran UNM adalah salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau organisasi setingkat yang bergelut dibidang penelitian dan keorganisasian, diorganisasi ini saya banyak belajar tentang penelitian, organisasi dan pengabdian masyarakat. Salah satu program pengabdian masyarakat saya jalankan sebagai panitia adalah Bola Macca (Rumah Pintar) dengan membangun rumah panggung sederhana yang dijadikan sebagai pusat belajar sambil bermain anak desa Benteng Kecamatan Camba Kabupaten Maros yang dilengkapi dengan perpustakaan sebagai salah satu upaya mencerdaskan anak bangsa, penuntasan buta aksara dan pemerataan pendidikan di Indonesia tanpa terkecuali didaerah saya sendiri di Kabupaten Sinjai. Selain itu sebagai salah seorang penerima beasiswa Bidikmisi saya juga banyak bergelut dibanyak kegiatan Bidikmisi, salah satunya dengan membentuk sebuah oraganisasi khusus mahasiswa Bidikmisi di UNM yaitu Ikatan Keluarga Mahasiswa Bidikmisi (IKBIM) UNM dan saya dipercayakan sebagai Ketua Umum. Selama menjabat sebagai pengurus IKBIM hingga saya alumni, saya banyak membantu kinerja kemahasiswaan terkhusus dalam hal Bidikmisi juga membuat sebuah program pengembangan minat dan bakat mahasiswa Bidikmisi dan mensosialisasikan program Bidikmisi kepada masyarakat luas hingga daerah terpencil dengan cara penyebaran informasi melalui sosial media, website, dan mengadakan sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah. Berkat kemampuan akademik yang bagus dan pengalaman organisasi yang memadai pada tahun 2012 saya terpilih menjadi mahasiswa berprestasi UNM dan mahasiswa Bidikmisi Berprestasi Nasional.

Salah satu dari Tri Darma Perguruan tinggi selain pendidikan dan penelitian adalah pengabdian masyarakat, dengan pengabdian masyarakat saya bisa memberikan konstribusi dan peranan besar bagi Indonesia. Harapan besar untuk terus mengabdi kepada bangsa ini juga sebagai wujud terima kasih sekaligus untuk membayar hutangku kepada pemerintah dan rakyat Indonesia seperti kata salah seorang motivator beasiswa Tony D Susanto “Beasiswamu adalah hutangmu kepada rakyat Indonesia, karena dengan rupiah demi rupiah pajak Rakyatlah Engkau disekolahkan!”. Untuk itu, saya bercita-cita untuk menjadi tenaga professional dibidang pendidikan khususnya yang berkaitan dengan teknologi informasi, komunikasi dan komputer. Saya berkeinginan mengembangkan teknologi dan media pembelajaran khususnya di daerah saya sendiri di Kabupaten sinjai agar pada siswa bisa lebih mudah dalam melakukan proses pembelajaran di sekolah dan bisa mewujudkan tujuan pembelajaran semaksimal mugkin.

NB: Essay ini saya tulis untuk pendaftaran beasiswa LPDP ditahun 2015.

Minggu, 25 September 2016

Ke Luar Negeri (Tidak) Harus Mahal

Impian untuk jalan-jalan keluar negeri adalah impian yang hampir dimiliki oleh setiap orang, minimal dinegara tetangga seperti di Malaysia dan Singapura. Dulu kalau ada orang yang jalan-jalan ke Kuala Lumpur atau ke Singapura diidentikkan dengan orang kaya, orang yang bisa menghabiskan jutaan bahkan puluhan juta hanya untuk jalan-jalan dan belanja. Ketika menyebut kedua negara ini yang tertanam dibenak yang paling pertama ketika ke Malaysia kita bisa berfoto didepan Twin Tower (Menara Kembar) yang terletak di KLCC (Kuala Lumpur City Center) dan di Singapura kita bisa berfoto di dekat Patung Merlion (Mermaid Lion). Hal yang wajar bagi seseorang untuk memiliki impian untuk jalan-jalan ke negara tetangga tersebut tanpa terkecuali, meskipun tidak cukup banyak uang seperti saya. Baru-baru ini saya melancong ke kedua negara ini hanya menghabiskan uang kurang lebih satu juga rupiah perorang.

Sebenarnya impian untuk jalan-jalan ke Singapura saya tuliskan dalam kertas Resolusi adalah pada bulan Mei 2015 dan Berpose di depan Menara Kembar Petronas Kuala Lumpur saya tulis pada bulan Juli 2016. Semua impian yang pernah saya tuliskan diatas sebuah kertas resolusi alhamdulillah hampir semuanya terwujud, pun kalau belum terwujud pasti akan tergantikan dengan yang lain yang jauh lebih baik atau saya harus memindahkannya lagi ditahun berikutnya. Intinya tuliskan saja apa saja impian-impian dalam hidup tanpa dengan mangabaikan berapa biaya yang harus saya persiapkan, berapa lama saya harus menabung atau bahkan saya akan bersama siapa.

Tugas menje(nguk)mput mahasiswa KKN Kebangsaan 2016 di Kepulauan Riau menjadi awal cerita hingga saya bisa sampai melancong ke Kuala Lumpur dan Singapura (meskipun motivasi terkuatnya adalah ada pada salah seorang dari mereka).

Modal awal yang saya harus siapkan jauh hari sebelumnya untuk bisa jalan-jalan keluar negeri adalah memiliki sebuah Paspor. Saya membuat paspor sudah setahun yang lalu (Juni 2015) itupun cuma menjalankan saran dari salah seorang teman yang pernah mengikuti pertukaran pelajar di Kanada, namanya Wawan Kurniawan. Sama halnya di empat tahun yang lalu, untuk mewujudkan impian saya membeli motor sendiri saya harus buat SIM lebih dahulu kemudian setahun kemudian saya berhasil membeli motor sendiri tanpa bantuan sepeser pun dari orang tua.

Tepat ditanggal 26 Agustus 2016 saya berangkat dari Bandara Sultan Hasanuddin – Makassar menuju bandara Hang Nadim-Batam bersama Pak Ismail (Sekretaris LPM UNM) dalam rangka mengikuti penutupan sekaligus penjemputan peserta KKN Kebangsaan 2016 di Tanjung Pinang. 

Perjalanan via pesawat dari Makassar menuju Bandara Soekarno Hatta untuk transit kemudian lanjut menuju Bandara Hang Hadim Batam. Kurang lebih empat jam perjalanan udara, kami tiba di Bandara Hang Nadim Batam kemudian lanjut menuju Pelabuhan Telaga Punggur dengan jarak kurang lebih 14 km atau sekitar 20 menit dari bandara untuk melanjutkan lagi penyeberangan menuju ibukota Propinisi Kepulauan Riau, Tanjung Pinang kurang lebih satu jam. Transportasi laut adalah satu-satunya jalur yang menghubungkan antara Kota Batam dengan Kota Tanjung Pinang. 

Diatas Kapal Ferry Aluminium dari Kota Batam menuju Tanjung Pinang

Acara Penutupan KKN Kebangsaan 2016

Bersama Mahasiswa KKN Kebangsaan 2016

Semalam menginap di Tanjung Pinang kemudian besoknya (27/8) menyeberang berbalik arah menuju kota Batam dengan alasan jarak menuju bandara jauh lebih dekat, bisa menjangkau banyak pusat perbelanjaan murah, bisa menjelajahi banyak wisata di Kota Batam dan yang paling penting yang punya paspor bisa dengan mudah menyeberang ke Malaysia atau pun ke Singapura. 

Setelah berdiskusi tentang rute liburan selama di Batam tiga hari sebelum kembali ke Makassar, kami putuskan untuk membagi tiga tim dari jumlah keseluruhan tiga puluh mahasiswa ditambah dengan saya sebagai pendamping; Pertama Tim Malaysia-Singapura, kedua tim Singapura dan terakhir tim Batam (tidak memiliki paspor). Saya sendiri ada di tim pertama bersama tiga orang mahasiswa (Isti, Iwan dan Ummu). Bersambung ketulisan berikutnya.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Aku Hanya Rindu


Wahai rindu kenapa kau begitu menyiksaku..
Aku tahu kau akan mengajarkanku banyak bersabar..
Mengajarkanku lebih fokus..
Mengajarkanku untuk terus berjuang..
Tapi tidakkah kau beri sedikit ruang untukku melihatmu tersenyum..
Sehingga aku bisa ikut tersenyum..
Aku cuma takut akan lupa bagaimana caranya tersenyum..
Atau bahkan aku lupa bagaimana rasanya tersenyum..
Aku hanya rindu, rindu dengan senyummu..


Jumat, 07 Agustus 2015

PEMENANG



Pemenang tidak akan tenang
Jika hanya memandang…
Tapi mereka yang pantang menyerah
dan tak mengenal jerah...
Masalah bukanlah sebuah penghalang
tapi sebuah proses menuju sukses yang tak terbilang...
Tuhan tahu apa yang ada dalam hatimu
tapi Tuhan mau lihat apa usahamu...
Mengeluh akan memuatmu tidur panjang
diatas ranjang yang tak berkaki...
Tapi semangat akan mengantarkanmu

menuju tujuan sebuah kisah yang hangat...


*Borobudur, 7 Juli  2015

Senin, 27 Juli 2015

Cerita dibalik Mudik dan Erupsi Gunung Raung #2

Saya terbangun sekitar pukul delapan pagi disaat Hariri dan keluarganya pulang dari Shalat Idh, Astagfirullah saya kesiangan..
Sebelum diantar kembali ke Bandara Juanda saya diajak untuk ikut berkeliling silaturrahmi ke rumah warga setempat sambil melihat bagaimana adat orang Jawa ketika hari lebaran, cukup jauh berbeda menurutku dengan dengan adat yang ada di Kampung halamanku. Adat mereka
Setelah shalat Jum’at disalah satu masjid di Gresik yang isi khutbahnya sepenuhnya menggunakan jawa, saya kembali berkemas dan bersiap untuk kembali ke Bandara di Sidoarjo karena perjalanan dari Gresik menuju Bandara Juanda di Sidoarjo cukup jauh dan saya harus check in selambat-lambatnya jam empat sore. Saya sibuk berkemas, orang tua Hariri juga sibuk mempersiapkan makanan dan minuman saya untuk di Bandara nanti juga oleh-oleh khas Gresik buat keluarga saya di Kampung.
Semuanya sudah beres dan siap untuk berangkat ke Bandara ternyata keluarga Hariri juga ikut mengantar, mulai dari Bapak, Ibu, paman, sepupu dan Hariri sendiri ikut mengantarkan saya ke Bandara. Penghargaan mereka terhadap tamu jauh melebihi dugaan saya, saya salut …
Waktu menunjukkan jam 3 sore akhirnya kami tiba di Bandara Juanda, duduk sejenak dan langsung menuju ke Costumer Service mananyakan perkambangan penerbangan. 
“Permisi mba, saya mau tanya bagaimana dengan perkembangan untuk jadwal penerbangan hari ini?”
“Maas mas, karena banyaknya pembatalan penerbangan maka kami harus menata ulang jadwal penerbangan, mas silahkan reschedule lagi”
Saya reschedule dan ternyata dapat jadwal pukul 20.30 WIB.. waw mundur tiga setengah jam lamanya.
Saya kembali ke rombongan Hariri beserta keluarganya dan memberitahukan tentang perubahan jadwal, Karena pertimbangan masih sangat lama dan mereka juga harus open house di Gresik akhirnya mereka pamit duluan dan langusung kembali ke Gresik. Terima kasih yang tak berujung buat mereka…
Kembali menunggu seperti hari sebelumnya dengan posisi yang tidak jauh berbeda juga. Saya kembali menghubungi kakak yang masih menunggu berita baik dari saya, saya informasikan bahwa jadwal keberangkatan saya mundur lagi. Dia kembali galau dan mulai berpikir untuk pulang lebih awal dari pada menunggu kedatangan saya yang tidak pasti. Tapi saya berusaha terus meminta agar tetap menunggu saya karena tidak ada lagi orang lain yang bisa saya harapkan untuk datang menjemput di Bandara kecuali dia. Dia kembali sepakat untuk tetap menunggu saya..
Setelah shalat maghrib tiba-tiba para penumpang kembali gusar setelah mendengar pemberitahuan dari pihak bandara bahwa Bandara akan kembali ditutup atas perintah langsung dari Menteri Perhubungan via telepon. Berita rencana penutupan Bandara pada pukul 19.00 WIB kembali disiarkan dibeberapa stasiun televisi nasional yang disaksikan oleh keluarga Hariri dan tentunya juga kakak saya yang masih setia menunggu di Makassar.
Secepatnya kembali saya menghadap ke costumer service bandara menanyakan kebenaran isu hangat penutupan bandara yang ramai diperbincangkan oleh para penumpang dan mereka membenarkan hal itu. Kembali harus memilih antara reschedule pemberangkatan atau refund tiket, jika reschedule waktu pemberangkatan yang paling cepat adalah pukul 7.00 WIB tanggal 18 Juli tapi jika refund harus mengurus lagi ke agen online tempat saya beli tiket. Berat rasanya memutuskan harus memilih apa, jika saya pilih reschedule lagi berarti saya bisa berangkat dihari berikutnya itu pun belum ada kepastian apakah ada penerbangan ataukah bandara akan ditutup lagi, jika saya pilih refund berarti saya bisa berganti mode transportasi dari Pesawat terbang ke Kapal Laut atau Kereta Api menuju salah satu kota yang bandaranya aman. Saya memutuskan untuk berpikir tenang dan keluar dari ruangan Costumer service..
Selanjutnya saya mencoba mencari kejelasan dari pihak lain yaitu ke maskapai penerbangan yang saya pakai saat itu yaitu Citilink. Kembali menanyakan kejelasan penutupan bandara, dia juga membenarkan hal tersebut tapi informasi resmi dalam bentuk surat pemeberitahuan dari kementerian perhubungan belum datang masih sebatas via telepon jadi saat itu belum ada kejelasan apakah bandara kembali ditutup atau akan tetap ada penerbangan malam itu.
Panggilan masuk pertama dari keluarga Hariri yang kembali gelisah karena melihat berita penutupan bandara lewat televisi di rumahnya. Panggilan kedua dari Kakak saya Yasmin yang sudah galisah maksimal dan sudah dua hari mendekam dikamar menunggu informasi pemeberangkatan terbaru dari saya. Saya hanya berusaha menenangkan mereka bahwa informasi penutupan bandara belum jelas dan masih ada harapan untuk bisa berangkat malam itu. Khusus kakak saya, kami sepakat kalau malam itu delay lagi maka saya membiarkan dia untuk kembali ke kampung lebih awal.
Harap-harap cemas masih menghantui pikiran saya malam itu dan belum bisa memutuskan apakah harus memilih reschedule atau refund, yang bisa saya lakukan adalah saya masih bersedia menunggu selama beberapa jam terkait informasi baru apakah bandara akan ditutup lagi ataukah akan ada pemberangkatan.
Sempat terjadi adu argument dan aksi pukul meja dari beberapa penumpang saat itu yang sudah habis kesabaran karena sudah dua hari lamanya menunggu pesawat yang tak kunjung berangkat dan harus menunggu lagi jika bandara ditutup sedangkan beberapa rute sudah ada yang berangkat dan menurut informasi dari ATC (Air Traffic Controller) atau Pemandu Lalulintas Udara bahwa lalulintas penerbangan malam itu aman-aman  saja. Sebagian penumpang khususnya dari Makassar masih tetap mengadakan negoasiasi dengan pihak kementerian perhubungan dan saya berinisiatif bersama beberapa penumpang lain untuk audiensi dengan pihak reporter televisi nasional. Setelah sepakat untuk on air satu jam kedepan dengan salah satu pihak media yang bersedia menyiarkan keluhan kami dengan harapan ada desakan bagi pihak bandara dan pihak kementerian untuk segera mengambil keputusan pasti apakah bandara jadi ditutup ataukah akan ada penerbangan.

Kami kembali kerombongan penumpang yang sedang melakukan negosiasi dan tidak lama setelah itu akhirnya ada titik terang dari pihak bandara bahwa pada malam itu pihak bandara akan tetap mengadakan pemberangkatan. Pesawat saya berangkat tepat pada jadwal yang saya minta sebelumnya yaitu pukul 20.30 WIB meskipun sudah banyak kursi yang kosong karena sudah banyak yang melakukan reschedule dan refund.  Alhamdulillah tiba dengan selamat di Bandara Hasanuddin – Makassar tepat pukul 23.00 WITA. Dan bisa pulang kampung dengan tenang bersama kakak esok paginya… 

Cerita dibalik Mudik dan Erupsi Gunung Raung #1


“Harapan untuk bisa berkumpul bersama keluarga di kampung menyambut hari kemenangan, justru jadinya hari raya di Kampung orang…”

Hari itu saya bergegas lebih awal dari pada biasanya berharap semuanya sesuai dengan rencana. Jadwal keberangkatan pesawat saya mestinya pukul 17.05 WIB tanggal 16 Juli 2015 melalui Bandara Internasional Juanda Surabaya, tapi saya memilih untuk berangkat pagi meniggalkan Kampung Inggris di Desa Tulungrejo Pare – Kediri.

Pembatalan tiket kereta Api, Jalan-jalan kota Surabaya sambil cari oleh-oleh adalah rencana awal sebelum ke Bandara di Sidoarjo. Tiba di Bandara pukul 13.00 WIB saya rasa waktu yang masih sangat lowong dan belum bisa melakukan check in. Saya berputar-putar mencari ATM Center dan Mushallah di lokasi bandara dan akhirnya ketemu juga.. Setelah meninggalkan Mushallah saya menuju kursi pemberangkatan penumpang. Tiba-tiba terdengar pemberitahuan bahwa Bandara Internasional Juanda ditutup untuk sementara karena debu vulkanis yang disemburkan Gunung Raung di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, menghalangi jalur penerbangan dan bandara akan kembali dibuka pada pukul 20.30 WIB yang harus membatalkan kurang lebih 140 penerbangan. Tidak ada pilihan lain kecuali sabar menunggu kabar baik dari pihak bandara. 


Penantian yang menurutku sangat melelahkan tapi juga cukup menguji kesabaran ketika pengumuman kedua diumumkan oleh pihak Bandara bahwa pada malam itu tidak ada penerbangan karena bandara belum memungkinkan untuk dibuka. Hanya dua pilihan; Rechedule (atur ulang jadwal) atau pembatalan tiket dan uang dikembalikan (refund), saya tetap bertahan menunggu pesawat sampai bisa berangkat dan saya memilih untuk reschedule ke waktu yang tercepat tapi jadinya dapat pukul 17.05 WIB lagi. 

Kemungkinan bandara akan terbuka buka pagi (17/7/15) pukul 07.00 WIB. “Yah apa boleh buat semua akan ada hikmahnya” hiburku dalam hati. Tapi bagaimana dengan kakakku yang sudah menunggu dan siap untuk menjemput kedatangan saya di Bandara? Saya tahu betapa gusarnya dia ketika melihat berita di televisi bahwa Bandara Juanda tutup ditambah kabar dari saya bahwa tidak ada kemungkinan untuk bisa kembali lebaran di kampung. Dia punya istri dan anak bayi di kampung yang menunggu kepulangannya, terlebih karena dia yang dipercaya untuk belanja bahan makanan untuk lebaran. Sungguh dilemanya dia malam itu lewat suaranya yang berat dan terbata-bata saat saya berkomunikasi suara via handphone. Namun akhirnya dia tetap bersedia menunggu saya. 

Saya berusaha menghubungi beberapa kenalan yang berdomisili di Surabaya dan sekitarnya. Sebagian besar diantara mereka tidak memiliki kendaraan pribadi dan jarak rumahnya dari bandara cukup jauh. 
Tidak ada pilihan lain kecuali ikut bermalam dibandara bersama penumpang lain yang juga harus menerima nasib untuk tidak lebaran di kampung halaman. Menginap di hotel bandara bukan kelas saya yang hanya pekerja serabutan di Kota Makassar, makanan di bandara pun saya katakan bukan harga makanan sekelas saya yang mungkin sekali makan di bandara sudah sebanding dengan makan enam kali di Kota Makassar. Saya sudah banyak belajar tentang kesabaran dan perjuangan hidup yang mungkin ini belum ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sudah saya lewati membuat saya lebih tenang sambil sesekali memandangi beberapa penumpang yang harus mengalirkan air mata kesedihannya sambil duduk memegang handphone yang didekatkan di telinga kanannya.  
Duduk melantai sambil sandaran di tembok dekat sumber listrik dengan headphone yang terpasang menutupi kedua daun telinga dan mendengarkan musik adalah posisi paling nyaman saya saat itu…
Pukul 23.00 WIB Tiba-tiba notif handphone berbunyi bertanda BBM masuk dari Hariri teman peserta Temu Bidikmisi Nasional di Unhas yang juga pernah datang ke kampung Inggris dan saya fasilitasi kamar penginapan di asrama saya.

“Bang, nginap dimana? Maaf baru baca pesannya”
“Tidak ada pilihan lain kecuali nginap di bandara dek” 
“Bagaimana kalau bermalam di rumahku saja di Gresik”
“Saya belum tahu jalan ke sana dek lagi pula jarak Bandara ke sana saya lihat di Google Map lumayan jauh, dan bisa menghabiskan waktu dua jam untuk tiba disana” 
“Naik damri bandara saja bang yang langsung menuju gresik, nanti saya jemput di Terminal Bunder Gresik”
“Baiklah saya coba cari dulu busnya..”

Bolak balik mencari informasi dan bertanya tentang transportasi menuju terminal Bunder Gresik dan katanya dari bandara tidak ada kendaraan yang langsung menuju Gresik mesti ke terminal Purabaya-Bungurasih dulu kemudian ambil bus jurusan Semarang atau Jurusan Perak kemudian di Perak harus menunggu angkutan umum yang menuju ke terminal Bunder..
Malam semakin larut, mata semakin sayu dan letih semakin menjadi-jadi, hanya semangat yang melekat dalam diri saya malam itu. Mengangkat koper berat berisi buku dan barang lainnya naik turun bus adalah hal yang paling melelahkan saat itu…
Jam tangan hitam dilengan kiri saya sudah menunjukkan Pukul 00.05 WIB saya tiba di Perak dan harus jalan kaki sekitar 200 meter menuju pertigaan tempat menunggu angkutan umum arah Gresik tapi setelah bertanya dengan orang yang saya temui tidak jauh dari tempat itu katanya sudah jarang ada angkutan umum untuk malam selarut ini bahkan tidak ada lagi karena besok sudah lebaran.

Saya mencoba untuk menghubungi Hariri dan dia bersedia untuk menjemput ditempat saya menuggu, hampir satu jam menunggu di tempat yang sepi itu akhirnya Hariri tiba bersama kakaknya dengan menggunakan mobil Terrios. Akhirnya bisa melepas lelah juga .. cepatnya mobil dan lurusnya jalur Pantura (Pantai Utara) menuju Gresik membuat saya tertidur dan terbangun setelah mobil tiba tepat di depan rumah Hariri. 

Jumat, 24 Juli 2015

SAYA HANYA INGIN PULANG


Mengakhiri petualangan di Pulau Jawa saya berencana untuk kunjungan silaturrahmi ke rumah keluarga di Kota Jakarta, yah kota yang pernah saya kunjungi beberapa tahun yang lalu.  

Entah kenapa meskipun dengan alasan saya yang tidak begitu jelas tiba-tiba ada dorongan yang begitu kuat dari benak saya untuk lebih memilih pulang ke kampung halaman dari pada tinggal menghabiskan waktu di tanah Jawa naik turun kereta api dari stusiun A ke stasiun B, dari bus A ke bus B, dari angkot A menuju angkot B membawa perlengkapan pribadi yang lumayan banyak dan juga menghabiskan isi rekening yang sudah semakin menipis. Mungkin juga karena ada rindu yang begitu dalam untuk kumpul bersama orang tua dan saudara atau rindu kepada orang cantik kedua yang begitu membara. Intinya saya mau pulang…


Tiket kereta api dengan tujuan perjalanan dari Stasiun Pasar Turi (Surabaya) ke Stausiun Pasar Senen (Jakarta) pulang pergi telah saya bayar jauh hari sebelumnya meskipun juga saya telah booking tiket penerbangan Surabaya menuju Makassar.




Malam sebelum pulang rencanya numpang menginap ditempat kost-an Hasbi sahabat saya si pemilik rambut kribo dengan alasan lebih mudah dan lebih dekat menunggu bus menuju terminal Purabaya di Bungurasih Surabaya tapi malah di bawa ke tempat kursusnya di English Studio yang jaraknya cukup dekat dari tempat kost-nya. Hanya butuh beberapa detik berdiri disebuah pertigaan, bus patas tujuan Surabaya tiba-tiba muncul dan berhenti tepat di depan saya. Ketika naik diatas bus yang ada dalam benak saya hanya urutan rute perjalanan setelah tiba di terminal Bungurasih;  Setiba di terminal saya harus cari bus menuju Stasiun Pasar Turi, setelah itu melakukan pembatalan tiket kereta api, naik bus keliling kota Surabaya sambil hunting oleh-oleh buat pulang dan terakhir menuju Bandara Juanda di Sidoarjo.

Tiba di terminal dengan wajah polos dan dihujani para pemilik jasa transportasi mulai dari Damri, taksi, mobil travel, juga ojek. Lama menunggu bus menuju Stasiun Pasar Turi akhirnya saya memutuskan untuk menerima salah satu tawaran tukang ojek dengan catatan sepakat dengan rencana rute perjalanan yang saya mau. Sepakat rute, sepakat dengan besaran bayaran..

Perjalanan dengan jasa ojek dimulai dari terminal dengan koper ukuran kecil didepan, ransel di punggung dan kantongan pakaian jinjing di tengah.. jalan pak !!!

Jarak menuju stasiun dari terminal cukup jauh tapi untung tidak macet. Tiba di stasiun Pasar Turi yang yang sudah dibanjiri oleh para mudiker-mudiker lebaran dan tentunya banyak juga diantara mereka rela berdesak-desakan hanya untuk membatalkan tiket perjalanan seperti saya. Cetak tiket, Mengisi form pembatalan tiket dan antri menunggu giliran nomor antrian dipanggil memakan waktu hampir dua jam dan pastinya masih bersama tukang ojek. Pembatalan tiket sudah kelar meskipun uangnya akan di refund (dikembalikan) via rekening memakan waktu paling cepat sebulan setelah pembatalan ditambah dengan potongan 25% dari harga tiket sebagai biaya administrasi katanya.


Rute selanjutnya adalah keliling kota Surabaya plus hunting buah tangan. Tapi karena merasa kasihan dengan tukang ojek yang pastinya akan menunggu lama lagi akhirnya saya memutuskan hanya ingin mampir sejenak untuk mengabadikan moment di Patung Suro (hiu) dan Boyo (buaya) tepat di depan Wisata Kebun Binatang Surabaya. Lima belas menit saya rasa sudah cukup lama untuk main ditempat itu..



Rute terakhir menuju Bandara Domestik Juanda Surabaya, namanya saja Surabaya tapi bertempat di Sidoarjo tapi jarak tempuhnya dari Kota Surabaya menuju Sidoarjo tidak sampai menghabiskan air mata karena hembusan angin yang begitu kuat tapi membuat bibir kering karena panas dan hembusan angin.

Minggu, 19 Juli 2015

Kenapa ke Kampung Inggris?

Ketika kita mendengar kata KEDIRI mungkin hal yang paling pertama teringat adalah kampung Inggrisnya yang begitu top dikalangan para pelajar pencinta bahasa asing.

Saya ingat sekali di lima tahun silam. Saya sebagai mahasiswa baru waktu itu dan sebagai penghuni baru disebuah pondokan sesama mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara keras yang terdengar begitu mendengung ditelinga dari luar kamar sambil berbicara bahasa Inggris dengan begitu lancarnya. Setelah itu diikuti dengan bahasa Indonesia yang inti percakapannya tentang dirinya yang baru pulang dari Kediri belajar bahasa Inggris. Sempat saya berpikir apasih kelebihan belajar di sana dibanding di Makassar sendiri. Padahal di Makassar juga banyak tempat kursus yang tidak kalah bagusnya juga tidak kalah mahalnya. Lambat laun saya menemukan sedikit demi sedikit alasan kenapa banyak orang-orang dari segala penjuru tanah air yang berbondong-bondong ke Kampung Inggris – Pare. ada mengatakan karena metode belajarnya mudah dipahami dan cepat dimengerti, biaya kursusnya jauh lenih murah dibanding di Makassar sendiri, lingkungannya mendukung karena kampung Pare desa Tulungrejo bangunannya hampir dipenuhi oleh tempat kursus dan penghujinya kebanyakan pendatang yang ingin perdalam bahasa inggrisnya, dan masih banyak alasan lain kenapa mesti di Pare. Tapi khusus saya sendiri, hanya ingin mewujudkan impian saya yang sudah lama ingin belajar di Kediri.


Saya tidak pernah berpikir sebelumnya dari mana saya akan mendapatkan uang yang lumayan besar untuk ukuran saya agar bisa ke Kediri. Pikiran sederhanya saya hanya mengatakan “Nanti akan ada jalan untuk menuju kesana” saya tulis begitu saja diantara deretan impian-impian saya. Dipertengahan study saya, beberapa teman kuliah menghabiskan masa libur panjangnya di Kediri. Saya hanya bilang ke mereka, “nanti saya akan kesana juga” dan tepat dipenghujung kuliah saya, hampir semua teman serumah saya berbondong-bondong ke Kediri dengan berbagai motif. Ada yang ke Kediri hanya untuk belajar saja bahasa Inggris, ada yang mau belajar karena ingin menempati posisi tertentu disebuah perusahaan, tapi kebanyakan dari mereka dengan alasan untuk mencapai target skor tertentu untuk mendapatkan beasiswa luar negeri. Mungkin saya berada digolongan terakhir itu selain ingin mewujudkan impian untuk belajar di Kediri, saya juga punya impian sebagai seorang peraih beasiswa luar negeri.

Sedikit demi sedikit saya kemudian berbincang dengan mereka yang lebih duluan datang dari pada saya dan bertanya tantang apa alasan mereka kenapa belajar di Pare. Ada yang menjawab karena saya mau lanjut S1 di luar negeri, lanjut S2 di luar negeri, mau kerja diluar negeri, pengisi waktu libur dan bahkan ada yang jawab karena kami diwajibkan oleh guru bahasa Inggris di Sekolah. 

Sabtu, 09 Mei 2015

HIDUP ITU PROSES DIK

“Satu pesan saya dik, jangan pernah mengeluh apapun itu. Saya tidak senang mendengar orang yang mengeluh” (Ramly Ambo Logo)

Mungkin sejak itu tertanam dalam-dalam di mindset-ku untuk banyak belajar, berusaha lebih, pantang menyerah dan tidak mengeluh..  berikut beberapa dari banyak kisah yang pernah saya lalui.
Banyak orang yang bercerita tentang bagaimana perjuangan hidup orang lain, tapi lebih banyak diantara mereka yang bercerita tentang perjuangan hidup pribadinya (termasuk saya).
~  *** ~
Makan Nasi Campur Kripik
Tidak sedikit yang bertanya kepada ibuku jika bertemu, “Ibu kasi makan apa Yudi, kenapa bisa seperti itu ?” kata orang-orang kepada ibuku. Ibuku hanya menjawab dengan jawaban candaan sekenanya. “Yah makan nasi, ikan (kalau ada)” Katanya sambil tersenyum..
Saya hanya ingin bercerita dan mengajak kalian untuk banyak-banyak bersyukur, bukan banyak-banyak mengeluh. Hidup itu disyukuri, bukan untuk dikeluhkan..
Terkadang saya heran kepada adik-adik yang protes kepada orang tuanya jika disediakan makanan seadanya. Saya ingat persis ketika saya SMP sampai SMA dulu. Kebetulan ibu saya punya usaha kecil-kecilan, usaha pembuatan kripik (Pisang, singkong, talas) yang didistribusikan ke sekolah-sekolah dan saya yang mengantar ke tiap-tiap warung itu hampir setiap malam. Tidak jarang dan bahkan hampir setiap saya makan hanya dengan makan nasi dengan lauk kripik keladi atau singkong yang dibuat ibuku. Bagi saya yang penting ada pengganjal perut untuk beraktivitas.
Ketika diawal-awal kuliah pun uang makan saya hanya Rp.2000 dalam 2 hari. Rp. 2000,- bisa membeli 4 potong tempe/tahu yang saya habiskan sepotong tempe sekali makan. Kadang dicampur dengan masakan sayur daun kelor jika daun kelor depan kost lagi berdaun lebat. Atau bahkan jika beasiswa tak kunjung cair tidak jarang saya hanya makan nasi campur dengan garam. Tapi lagi-lagi semua itu tidak pernah saya keluhkan. 

Jalan Kaki di bawah Terik
Sejak kelas 2 SMA diberi amanah untuk pakai motor Honda tua milik nenek, tante ibu saya. Motor itu diberikan ke saya agar sewaktu-waktu jika beliau butuh diantar ketempat tertentu ada saya yang selalu siap mengantar. Namun pas ketika masa-masa saya persiapan ujian akhir di SMA nenek saya meniggal. Lulus SMA motor tua itu jadi barang rebutan dikalangan keluarga hingga akhirnya saya  dan ibu saya memilih untuk menyerah. Dengan harapan suatu saat nanti saya bisa beli motor baru yang jauh lebih bagus yang bisa membawa saya kemana pun.

Mahasiswa baru saya jalan kaki dari kost menuju kampus menembus lorong-lorong tikus belakang kampus, tidak jarang juga saya berjalan di bawah terik dari kampus sektor Parangtambung menuju kampus Gunungsari yang mungkin jaraknya sekitar 5 Km hanya untuk memenuhi panggilan para birokrasi disana tidak lain hanya untuk mengurusi ratusan mahasiswa Bidikmisi. Pernah juga suatu ketika bulan puasa dengan penuh harapan agar hari itu saya bisa mencairkan biaya hidup Bidikmisi pertama saya. Saya jalan kaki ba’da jum’at menuju Bank BNI Cabang Pettarani yang jaraknya sekitar 10 Km dari rumah kost.  Alhasil sesampai disana tepat pukul 15.30 yang berarti pelayanan sudah ditutup. Capek, iya.. letih, sangat.. haus, apalagi.. tapi itulah perjuangan. Saya kembali dengan tangan kosong dan mecari masjid terdekat untuk istirahat sembari menuggu buka puasa.

Semester berikutnya saya pernah dihadiahi sepeda Polyg*n dari pihak kemahasiswaan untuk bisa saya pakai pulang balik kampus atau pun keluar kerja tugas. Tapi hanya bertahan mungkin 1 semester karena dicuri.. sejak itu saya bertekad di semester 5 tepat di awal tahun 2013 saya harus punya motor sendiri apapun itu. Alhamdulillah kesabaran dan kesungguhan akan selalu berbuah manis, dipertengahan tahun 2012 saya terpilih menjadi mahasiswa berprestasi I se-Fakultas Teknik dan terpilih 3 besar mahasiswa berpretasi se-Univesitas Negeri Makassar hingga diakhir tahun 2012 saya menjadi salah seorang mahasiswa Bidikmisi yang terpilih mewakili UNM sebagai mahasiswa Bidikmisi berprestasi Nasional di Jakarta. “Hasil tidak pernah menghianati proses”. Tepat di tanggal 3 Januari 2013 saya bisa beli motor baru sendiri tanpa bantuan dari orang tua sedikit pun.
“saya tidak bangga jika saya punya kendaraan mewah, gadget merk terbaru tapi dari orang tua. Saya lebih bangga jika punya barang jelek tapi usaha sendiri”.

Tulis diatas kertas
Ponsel pertama saya beli dari kelebihan uang beasiswa saya waktu SMA. Itu pun hanya ponsel bekas, monophonic, layar kuning, baterainya dieratkan dengan menyelipkan lipatan kecil kertas diujungnya dan casingnya dibalut isolasi. Kurang lebih seperti pengganjal ban mobil atau bahkan pelempar mangga tapi sayangnya tidak bertahan hingga saya masuk kuliah.

Saya kuliah di salah satu program studi terfavorite lagi elite di UNM. Favorite karena prodi baru yang kebanjiran peminat dari segala penjuru Indonesia Timur hingga mencapai empat ribuan peminat ditahun itu. Elite karena kebanyakan dari mereka adalah anak dari kaum teknokrat, konglomerat, biroktrat dan kaum politisi  (tidak pakai rat) yang kebanyakan mata kuliahnya mengharuskan menggunakan laptop. Sedangkan saya hanya anak yatim dan sederhana. Ponsel saja tidak punya apalagi laptop..
Pernah suatu ketika ujian tengah semester mata kuliah Bahasa Pemrograman segera dimulai dan dosen memerintahkan untuk menaikkan masing-masing laptop di atas mejanya. Saya hanya bisa menoleh kiri dan kanan dan menyadari dikelas memang hanya saya yang tidak mempunyai laptop. Hanya bisa menelan ludah dan mengurut dada. Karena saya duduknya paling depan tiba-tiba dosen berkata “Ok silahkan kerjakan bahasa pemrograman yang ada pada slide di atas dengan menggunakan laptop masing-masing dan nanti file-nya dikumpul dalam satu flashdisk. Khusus Yudi kerjakan di atas kertas saja”.

Saya hanya ingin menyampaikan kepada siapa saja yang membaca ini terutama kepada adik-adik mahasiswa Bidikmisi, perbanyaklah berdoa, bersyukur dan berusaha karena tidak ada usaha yang tidak membuahkan hasil. Juga perbanyak berterima kasih kepada siapa pun yang selalu memberikan kebaikan dan bantuan kepadamu terutama kepada ibumu yang selalu mendoakan,  mengkhawatirkanmu dan memberikan kasih sayang tulusnya kepadamu.

“Hidup itu proses Dik, hadiah dan prestasi hanya efek dari proses yang kamu jalani. Tetap jadi manusia yang Optimistis…”

Jumat, 08 Mei 2015

Malino Kota Romantis

Seketika perasaan begitu segar, pandangan menjadi hijau, pikiran jadi terbuka yang di dalamnya mengalir syair-syair melangkolis ketika melintas di kawasan Malino. Kota Bunga orang menyebutnya, kota wisata juga mereka menyebutnya, tapi menurut saya Malino itu kota romantis. Romantis bukan karena sering dipadati pasangan muda-mudi yang menghabiskan masa liburannya disana. Romantis karena sepanjang jalan perkotaan ini dihiasi oleh rerimbunan pohon besar yang hijau juga juga bunga yang bermekaran diatasnya.



Semakin hari tempat ini semakin romantis. Dulu ketika berkunjung ke tampat ini kita hanya bisa menikmati pemandangan hutan pinus yang memanjakan mata, air terjun Takapala yang menenangkan hati, kolam lembah biru yang menyegarkan raga dan kebun teh yang membuka pikiran dengan pemandangan dedaunan hijau yang luas (hampir) sejauh mata memandang yang kini berubah nama menjadi Malino Highland.

Terakhir Beberapa hari yang lalu tepat dihari ulang tahunku, saya melintas di kota ini (lagi) dari kampung halaman di Sinjai Barat menuju Kota Makassar. Saya baru tersadar kota ini mungkin tidak lama lagi berganti julukan menjadi kota Strawberry bukan lagi kota Bunga. Tapi tetap kota Romantis menurut saya.. 
Semakin hari tempat ini semakin romantis. Dulu ketika berkunjung ke tampat ini kita hanya bisa menikmati pemandangan hutan pinus yang memanjakan mata, air terjun Takapala yang menenangkan hati, kolam lembah biru yang menyegarkan raga dan kebun teh yang membuka pikiran dengan pemandangan dedaunan hijau yang luas (hampir) sejauh mata memandang yang kini berubah nama menjadi Malino High Land.

Kembali ke strawberry..
Mungkin tidak sedikit yang menjadi penyuka buah mungil merah dan menggoda ini. Orang banyak menyebutnya simbol cinta karena mungkin bentuknya tidak jauh beda dengan bentuk hati atau mungkin seperti di film romantika yang menyebut strawberry seperti cinta yang terkadang rasanya asam yang akhirnya berasa manis. Bukan hanya simbol cinta, tapi menurut saya strawberry juga merupakan simbol yang mewakili kerendahan hati karena strawberry sering ditemukan di bawah daun.


“Salah satu hadiah istimewa untuk orang yang kamu cintai adalah menghadiahkannya strawberry”

Rabu, 06 Mei 2015

Setahun yang Lalu

Tepat setahun yang lalu saya masih mengingat dengan jelas ketika saya kembali ke rumah memulihkan lelah setelah seharian beraktivitas menguras pikiran juga semangat..

Pikiran habis terkuras bersama tumpukan tugas kuliah, praktikum, asistensi, tugas organisasi dan tumpukan berkas isian pendataan siswa berserta guru. Seperti biasanya, migrain akan jadi sahabat akrab jika dalam keadaan kondisi yang teramat lelah itu.

Lelah teramat lelah saat itu sehingga tidak ada pilihan lain selain merebahkan tubuh di atas kasur merah kecil tanpa mengganti pakaian yang masih melekat sedari pagi ditempat kerja, kemeja batik cetak merah ketika itu.

Hari itu tepat dihari ulang tahunku yang ke 22 yang sebenarnya dan 23 versi ijazah-nya.. ucapan dan doa yang paling  saya tunggu adalah darimu..namun tak kunjung datang juga dan tidak secepat layaknya saya yang menunggu detik-detik malam pergantian hari dihari ulang tahunmu. Yang ada hanyalah pesan singkat pamitanmu ke luar daerah bersama sahabatmu..  

Sudahlah, memang sebelumnya saya tidak pernah ada perlakuan atau pun moment istimewa sepanjang hidupku layaknya orang-orang kebanyakan diluar sana.

Tidurku tidak begitu nyeyak waktu itu, tiba-tiba dari luar pagar terdengar teriakan yang tidak begitu asing. Ternyata itu kamu bersama sahabatmu sambil memegang sebuah kotak putih berisikan kue dan membawanya kedalam rumah.

“Selamat ulang tahun dan tolong buatlah sebuah harapan menyentuh kue ini” Katamu..

Terima kasih menjadi orang yang pertama mengajak untuk membuat harapan. Ini ajakan kedua setelah ajak pertama dimalam pergantian tahun itu..

Rabu, 04 Februari 2015

Ragaku..

Ragaku di sini, tapi jiwaku ada di sana..
Dingin, riak hujan, dan teriakan nyanyian tak merdu mengelilingi ruang-ruang ragaku...
Aku merasa sendiri dalam keramaian yg tak bertepi..
Detak jantung mengiringi detik jarum panjang arloji ditangan kananku..sembari menghitung berapa detik lagi waktu yang akan saya habiskan diruang yang sepi ini hingga saya kembali ke tempat dimana jiwaku berada..

Kamis, 22 Januari 2015

Menunggu Mentari

Cahaya terang itu yang ku tunggu
dan cahaya terang itu yang ku nantikan...

bukan sebuah wajah kamuflase tanpa ekspresi...
atau wajah gelap tak berbinar...

Mungkin ini yang membuatku berat jika siang berganti malam..
yah, aku hanya tidak suka dengan wajah kegelapan..

Terkadang aku lebih memilih terlelap sebelum gelap
sehingga aku hanya bisa memandangi sisi cerahnya..

Aku hanya ingin terlelap disepanjang malam,,
hanya untuk menanti mencuatnya sinar keemasan mentari itu..

Rabu, 14 Januari 2015

Hujan di Januari



Ini tentang keseimbangan hidup yg bisa berjalan beriringan layaknya hujan di Januari..

Ketika senyum yang selalu meneduhkan hati, rindu yang tak terbendung, kenyamanan disisi, 
tertawa bersama, saling mendokan, saling mengingatkan, saling mendukung 
dan kasih sayang tak terbatas layaknya sebuah cincin  yang tak berujung
dan layaknya kura-kura yang mampu bertahan lama..
Seperti katamu...

Kekuranganku adalah celah untuk kau sempurnakan
dan kekuranganmu adalah sisi untuk aku lengkapi..

Terima kasih yang selalu menemaniku di Hujan Januari ini, 
dan kita akan selalu menanti Hujan Januari berikutnya...


*Happy 1st(i) year Anniversary

Rabu, 31 Desember 2014

Catatan Pergantian Tahun

Menyederhanankan sebuah langkah dalam seutas kisah, 2014 sisa menghitung jam. Sejenak memandangi deretan tulisan yang mungkin kata orang hanya sebuah daftar keinginan. Tapi bagi saya adalah sebuah deretan titik dari beberapa titik yang akan terlewati oleh bentangan impian kehidupan. Titik itu akan selalu ada, dan suatu saat nanti akan terlewati oleh sebuah bentangan kehidupan. Saya tidak merasa gagal dengan daftar harapan itu, karena semua itu adalah modal saya untuk melangkah menuju babak baru di tahun 2015.

Terima kasih untuk ibuku yang selalu mengirimkan doa dengan penuh rasa cinta dan sejuta harapan, kamu adalah perempuan hebat yang pernah ku kenal.

Buat gadis pemimpi juga pembelajar yang kutemui tepat setahun yang lalu, sudah setahun kita jalan dengan titik dan jalan yang sama dengan membangun harapan-harapan besar bersama. 


Kamis, 18 Desember 2014

Cukup Duduk Bersamamu

Deburan ombak, hembusan angin laut, dan segelas kopi hangat menemani kita malam itu..

Kali pertama kita menikmati malam dengan cara berbeda... malam yang biasanya hanya diperantarai oleh sebuah pesan  singkat atau panggilan suara. Tapi malam itu kita duduk di sebuah teras rumah panggung di tempat yang baru kita datangi tapi sangat indah menurutku juga menurutmu.

Malam itu kita sama-sama berbalut jaket couple biru tua sebagai penahan dinginnya angin malam. Juga malam itu kamu menitip cincin emas di jari kelingking kananku sebagai orang yang kamu percaya..

Mungkin kamu selalu ingat bukan, untuk membuatku bahagia cukup sederhana. Yaitu bisa duduk bersamamu...

Pantai Bara, 18 Nopember 2014

Senin, 26 Mei 2014

Di musim Dingin Kita Bertemu

Sebuah pecakapan singkat waktu itu, “Kak saya mau banyak tahu tentang karya tulis” Katamu kepadaku. Dengan senyum saya menjawab, “saya akan selalu bersedia mengajarkanmu apapun itu selama saya tahu”, tapi saya sangat berharap kamu bisa bergabung disebuah lembaga yang telah membesarkan saya. “Bagaimana cara bergabungnya kak, dan kapan itu?”. “Yah tidak lama lagi perekrutan anggotanya akan terbuka tunggu info selanjutnya, saya akan kabarkan kalau sudah mulai pengambilan formulirnya”.

Saya tidak akan lupa dengan orang pertama yang mengajakku untuk menuliskan sebuah harapan di malam tahun baru, yah seumur hidupku kamu orang yang baru saya kenal tapi orang yang pertama mengajakku untuk menuliskan mimpi-mimpi di tahun yang tidak lama lagi akan segera datang waktu itu. Dari beberapa deretan impian yang saya tuliskan kamu mengaku iri dari beberapa diantaranya. Namun ada satu harapan di bulan Januari yang saya tidak tuliskan dan kamu tahu pasti apa harapan itu, kamu masih ingatkan? Yah, cukup kita berdua yang tahu.

Kamu memutuskan untuk ikut bersama mimpi-mimpiku namun saya memberimu satu tantangan, “kamu harus menemuiku disebuah persimpangan, kemudian kita akan berjalan bersama” saya tunggu kamu disana, kataku dengan yakin dan kamu menyanggupinya.

Saya tahu kamu teramat lelah melewatinya tapi tidak dengan semangatmu Cuma fisikmu, kamu selalu meyakinkanku dengan senyum optimismu untuk bisa menggapai itu demi sederetan mimpi.

Empat Musim yang telah kamu lalui..

Musim yang pertama yang kamu lalui adalah musim Semi. Jika di Jepang musim semi adalah musim peralihan dari musim dingin ke musim panas dimana tumbuh-tumbuhan mekar kembali karena itulah disebut musim bunga, tapi kamu telah melewati musim semi yang berbeda. Dimana kamu telah mencoba keluar dari kebiasaan kamu yang ketika selesai kuliah langsung kembali ke rumah menuju hari-hari kamu yang disibukkan dengan suatu hal yang akan menyita banyak waktu bersantaimu dan menyita waktu tidur siangmu.
Musim kedua yang kamu lalui adalah musim panas, saya tidak begitu jelas dengan musim yang satu ini tapi yang pastinya ini pernah kamu lalui waktu itu. Kamu sempat kehilangan senyummu selama beberapa hari dimusim panas ini.. tapi itu tidak masalah karena saya yakin kamu masih bisa mengukir senyum seperti biasanya jika musim panas berlalu. 

Musim panas telah berlalu berganti musim gugur, tapi bukan berarti kamu berhenti menunggu mencuatnya mentari di pagi hari karena saya dan kamu tahu pasti mentari di pagi hari akan selalu setia bersama pagi seperti kamu yang setia mengukir lengkungan senyumku. Putus asa dan pesimis identik dengan musim ini, tapi kamu tidak.. mereka rela lepas dan pergi bersama hembusan angin dengan membawa putus asa dan pesimisnya. Dan kamu berhasil melalui musim gugur ini.. meski kamu sesekali memintaku untuk ikut gugur bersama angin bak dedaunan yang lepas dari tangkainya tapi kamu masih mampu melumpuhkan rasa pesimis itu demi sebuah harapan dan janjimu kepada saya.

“Selama masih ada harapan dan orang-orang yang mendukungku,, saya tidak akan mundur” kata ini semakin meyakinkanku bahwa kamu akan datang..
Musim dingin tiba, tempat dimana kamu berjanji untuk menemuiku …
Bintang, lilin, dan jejeran lampion jadi temanku malam itu sambil menyelami dinginnya malam. Saya ingin sekali menyapamu dimalam itu, tapi kamu tidak mengizinkanku untuk malam itu. Saya hanya bisa sesekali mencuri pandang diantara lilin yang berjejer yang juga jadi temanmu malam itu.

Source image:
Satu persatu bintang pamit dan menghilang dari pandanganku berganti fajar yang semakin dekat menemani sinarnya lilin-lilin yang tidak lama lagi akan pupus dan lebur namun menyisakan bekas.
Hembusan angin yang dingin mulai merayu dedaunan dan rumput untuk hening dengan disaksikan lilin dan obor yang juga diam membisu mendengarkan kata-kata yang kamu ikrarkan.. Itu juga sebagai tanda kamu akan segera menemuiku dan akan berjalan bersamaku, bersama jejeran mimpi-mimpi kita. Semua itu atas nama impian, cinta, dan cita-cita.

            *Desa Ko’mara, 25 Mei 2014

Followers

Terima Kasih atas kunjungan anda, Jangan lupa Follow, dan komentarnya !!!